Polres Jepara salurkan bantuan air bersih div Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara yang mulai dilanda kekeringan
16.258 Jiwa 6 Daerah di Jateng Terdampak Kekeringan
Akhmad Safuan • 25 June 2026 09:34
Semarang: Dampak kemarau di Jawa Tengah mulai dirasakan oleh 16.258 jiwa atau 4.808 keluarga di enam daerah yang dilanda kekeringan dan kekurangan air bersih. Bantuan air sebanyak 654 ribu liter telah disalurkan ke desa-desa yang terdampak.
Kekeringan akibat kemarau mulai melanda puluhan desa di enam daerah di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Klaten, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Jepara, dan Purworejo. Belasan ribu jiwa mengalami kesulitan air bersih untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Menghadapi kekeringan yang mulai dirasakan warga, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mulai menyalurkan bantuan air bersih hingga ratusan ribu liter ke desa-desa terdampak.
"Kami terpaksa beli air bersih secara gotong royong untuk memenuhi konsumsi, karena air sumur sudah mengering," kata Sukamto, warga Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.
Hal serupa juga diungkapkan Asidah, warga Desa Gemuruh, Banjarnegara, yang juga mulai merasakan dampak kemarau berupa kekurangan air bersih. Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, ia terpaksa membeli air bersih dari sejumlah pedagang keliling.
"Setiap hari harus beli air untuk masak dan minum harga Rp16.000, sumur sudah kering dan sungai keruh," tambah Asidah.
Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan membenarkan kekeringan sebagai dampak kemarau mulai melanda puluhan desa. Untuk meringankan beban warga dan memenuhi kebutuhan air bersih, bantuan mulai disalurkan.
Berdasarkan data hingga Kamis, 25 Juni 2026, sebanyak 16.258 jiwa atau 4.808 keluarga di enam daerah di Jawa Tengah telah mulai kekurangan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, telah disalurkan sebanyak 654 ribu liter air bersih ke desa-desa terdampak.
Bantuan air bersih telah disalurkan di antaranya Kabupaten Klaten menjadi daerah dengan distribusi terbesar sebanyak 553 ribu liter, disusul Purbalingga 30 ribu liter, Banjarnegara 26 ribu liter, Cilacap 20 ribu liter, Jepara 20 ribu liter, dan Purworejo 5 ribu liter.

Ilustrasi kekeringan. Foto: Dok. MGN.
Menurut Bergas, kekeringan di Jawa Tengah tidak hanya melanda enam kabupaten tersebut. Sejumlah daerah lainnya juga telah menetapkan status siaga darurat kekeringan sebagai dampak kemarau tahun ini, yaitu Kabupaten Sukoharjo, Demak, Temanggung, Brebes, Kendal, Sragen, Kota Tegal, dan Kota Salatiga.
Tidak hanya itu, ancaman kekeringan di Jawa Tengah juga terjadi di 18 daerah seperti Demak, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Sragen, Brebes, Tegal, Pemalang, Boyolali, Kabupaten Semarang, Cilacap, Purbalingga, Purworejo, Klaten, Jepara, dan Banjarnegara.
"Kita pastikan pelayanan distribusi air bersih akan tetap berjalan maksimal di tengah isu kenaikan harga BBM, apalagi kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga September mendatang," ujar Bergas.
Untuk memenuhi kebutuhan bantuan air bersih, Pemprov Jawa Tengah telah menyiapkan 124 juta liter air bersih. Bahkan jika kondisi mendesak, cadangan air bersih tersebut akan ditambah sesuai kebutuhan di lapangan.