BI Siapkan Kebijakan Jangka Pendek untuk Jaga Stabilitas Ekonomi

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.

BI Siapkan Kebijakan Jangka Pendek untuk Jaga Stabilitas Ekonomi

Ade Hapsari Lestarini • 29 June 2026 13:35

Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah kebijakan jangka pendek untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan kebijakan tersebut difokuskan pada stabilitas nilai tukar dan penguatan likuiditas di pasar keuangan.

"Dalam hal ini kita bicara nilai tukar dan likuiditas. Untuk nilai tukar mungkin dari teman-teman media sudah aware, dalam satu bulan terakhir kami sudah menaikkan BI rate sebesar 100 basis poin, sehingga sekarang berada di posisi 5,75 persen," ungkap Destry, dalam keterangan pers usai rapat pimpinan DPR bersama pemerintah terkait kebijakan fiskal dan moneter, Senin, 29 Juni 2026.


Ilustrasi Gedung BI. Foto: dok BI.
 

Repricing SRBI dan SBN


Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga melakukan repricing atau penyesuaian harga terhadap instrumen yang diterbitkan Bank Indonesia maupun pemerintah, yaitu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).

Destry mengungkapkan, langkah tersebut turut mendorong masuknya aliran modal asing (inflow) yang cukup signifikan sepanjang Juni 2026. Secara year to date hingga 26 Juni 2026, inflow ke portofolio SBN dan SRBI sudah mencapai sekitar USD9 miliar.

"Jadi itu pertama tentunya confidence dari offshore yang tentu juga akan tercermin dari confidence masyarakat Indonesia," ujar dia.
   

BI perkuat likuiditas pasar


Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga terus memperkuat likuiditas di pasar melalui berbagai instrumen moneter. Destry menjelaskan, ekspansi likuditas melalui operasi moneter meningkat dari sekitar Rp600 triliun pada akhir Mei 2026 menjadi sekitar Rp1.000 triliun pada akhir Juni 2026.

"Khusus untuk menjaga likuditas agar tidak terjadi gejolak harga di pasar uang dan pasar valas kita," kata Destry.

(Ade Hapsari Lestarini)