Warga Gaza dihadapkan pada relokasi oleh pihak Israel. Foto: Anadolu
Israel Ubah Narasi Relokasi Palestina Setelah Kekhawatiran soal Pemindahan Paksa
Muhammad Reyhansyah • 30 June 2026 12:01
Tel Aviv: Pejabat politik dan keamanan Israel dilaporkan mengganti istilah “migrasi sukarela” menjadi “Free Movement Plan” atau Rencana Pergerakan Bebas untuk merujuk pada rencana relokasi warga Palestina dari Jalur Gaza.
Langkah itu diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai potensi pemindahan paksa penduduk.
Mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, Channel 13 Israel melaporkan bahwa instruksi telah disampaikan kepada berbagai lembaga terkait, termasuk institusi keamanan dan intelijen, agar kembali memperkenalkan inisiatif tersebut dengan istilah yang dinilai lebih dapat diterima oleh masyarakat internasional.
Menurut sumber yang terlibat dalam komunikasi dengan sejumlah negara, perubahan istilah itu diharapkan dapat mengubah sikap negara-negara terkait serta menghidupkan kembali rencana tersebut setelah sebelumnya mengalami hambatan.
Seorang pejabat senior Israel yang identitasnya tidak diungkapkan juga mengakui bahwa Hamas masih berada di Jalur Gaza dan mengatakan pemerintah Israel berupaya mendorong “sebanyak mungkin warga Palestina di Gaza” untuk meninggalkan wilayah tersebut.
Langkah itu diambil di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai potensi pemindahan paksa penduduk.
Mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, Channel 13 Israel melaporkan bahwa instruksi telah disampaikan kepada berbagai lembaga terkait, termasuk institusi keamanan dan intelijen, agar kembali memperkenalkan inisiatif tersebut dengan istilah yang dinilai lebih dapat diterima oleh masyarakat internasional.
Menurut sumber yang terlibat dalam komunikasi dengan sejumlah negara, perubahan istilah itu diharapkan dapat mengubah sikap negara-negara terkait serta menghidupkan kembali rencana tersebut setelah sebelumnya mengalami hambatan.
Seorang pejabat senior Israel yang identitasnya tidak diungkapkan juga mengakui bahwa Hamas masih berada di Jalur Gaza dan mengatakan pemerintah Israel berupaya mendorong “sebanyak mungkin warga Palestina di Gaza” untuk meninggalkan wilayah tersebut.
Upaya Relokasi Sudah Berlangsung Sebelumnya
Pada April, surat kabar Haaretz melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menugaskan penasihat urusan internasionalnya, Caroline Glick, untuk memajukan rencana relokasi warga Palestina.
Laporan tersebut menyebut upaya itu mencakup komunikasi dengan wilayah Somaliland serta Democratic Republic of the Congo, namun tidak menghasilkan kesepakatan.
Channel 12 Israel sebelumnya juga melaporkan pada Desember 2025 bahwa aparat keamanan telah menyerahkan rencana kepada pemerintah untuk memindahkan warga Palestina dari Gaza melalui jalur darat, laut, dan udara.
Namun, pembicaraan dengan sejumlah negara disebut tidak membuahkan hasil. Israel selama ini berulang kali menggambarkan relokasi warga Palestina sebagai bentuk “migrasi sukarela”.
Di sisi lain, perang yang terus berlangsung, kerusakan luas, dan blokade yang semakin diperketat di Jalur Gaza telah memicu peringatan berulang dari Otoritas Palestina, Hamas, serta negara-negara Arab mengenai risiko terjadinya pemindahan paksa penduduk.
Perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, melukai lebih dari 173.000 lainnya, serta menyebabkan kerusakan besar pada sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut.
Laporan tersebut menyebut upaya itu mencakup komunikasi dengan wilayah Somaliland serta Democratic Republic of the Congo, namun tidak menghasilkan kesepakatan.
Channel 12 Israel sebelumnya juga melaporkan pada Desember 2025 bahwa aparat keamanan telah menyerahkan rencana kepada pemerintah untuk memindahkan warga Palestina dari Gaza melalui jalur darat, laut, dan udara.
Namun, pembicaraan dengan sejumlah negara disebut tidak membuahkan hasil. Israel selama ini berulang kali menggambarkan relokasi warga Palestina sebagai bentuk “migrasi sukarela”.
Di sisi lain, perang yang terus berlangsung, kerusakan luas, dan blokade yang semakin diperketat di Jalur Gaza telah memicu peringatan berulang dari Otoritas Palestina, Hamas, serta negara-negara Arab mengenai risiko terjadinya pemindahan paksa penduduk.
Perang Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, melukai lebih dari 173.000 lainnya, serta menyebabkan kerusakan besar pada sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut.