Trofi Piala Dunia. Foto FIFA
Tuai Kontroversi, Jurnalis Meksiko Dilarang Berbahasa Spanyol dengan Pemain saat Jumpa Pers
Whisnu Mardiansyah • 15 June 2026 09:17
Jakarta: Di tengah gegap gempita pertandingan Piala Dunia 2026, muncul kontroversi mengenai penggunaan bahasa penghubung antara pemain dan jurnalis saat konferensi pers.
Dalam sejumlah konferensi pers sebelum dan sesudah pertandingan pada pekan pertama Piala Dunia 2026, beberapa jurnalis berbahasa Spanyol mengaku tidak diizinkan mengajukan pertanyaan dalam bahasa mereka.
Moderator FIFA meminta agar pertanyaan disampaikan dalam Bahasa Inggris atau bahasa lain yang telah ditentukan dalam layanan penerjemahan resmi pertandingan. Insiden tersebut memicu kritik luas dari media, penggemar sepak bola, hingga sejumlah tokoh olahraga internasional.
Awal Mula Kontroversi
Melansir El Pais media kenamaan asal Spanyol, perdebatan mencuat setelah konferensi pers menjelang laga Brasil melawan Maroko di MetLife Stadium, New Jersey.
Seorang jurnalis asal Meksiko dilaporkan mencoba mengajukan pertanyaan dalam bahasa Spanyol kepada bek Maroko, Achraf Hakimi, yang lahir dan besar di Spanyol serta fasih berbahasa Spanyol. Namun moderator FIFA menghentikan pertanyaan tersebut dan meminta penggunaan bahasa yang telah masuk dalam daftar layanan penerjemahan resmi.
Situasi serupa juga terjadi saat sesi media bersama Vinícius Júnior. Meskipun pemain Brasil itu memahami Bahasa Spanyol, prosedur resmi tetap mengharuskan penggunaan bahasa yang telah ditentukan sebelumnya.
Alasan yang dikemukakan berkaitan dengan keterbatasan layanan penerjemah yang disediakan FIFA pada konferensi pers tertentu. Dalam praktiknya, FIFA hanya menyediakan sejumlah bahasa sesuai kebutuhan tim yang bertanding dan bahasa utama yakni Bahasa Inggris.
Kontroversi ini mencuat karena Piala Dunia 2026 tidak hanya berlangsung di Amerika Serikat dan Kanada, tetapi juga di Meksiko, sebagai penutur resmi Bahasa Spanyol.
Selain itu, bahasa Spanyol merupakan salah satu bahasa dengan jumlah penutur terbesar di dunia. Di Amerika Serikat sendiri, Bahasa Spanyol adalah bahasa kedua yang paling banyak digunakan setelah Bahasa Inggris. Serta negara peserta Piala Dunia dari negara-negara Amerika Selatan dan sebagian Amerika Tengah berbahasa Spanyol.

Pertandingan Brasil vs Maroko berakhir seri 1-1. Foto: Instagram/Brasil
FIFA Membantah Adanya Larangan Resmi
Di tengah meningkatnya polemik, sejumlah media Spanyol melaporkan bahwa FIFA tidak pernah mengeluarkan aturan resmi yang melarang penggunaan Bahasa Spanyol. FIFA menjelaskan sistem konferensi pers menggunakan bahasa yang dipilih oleh masing-masing federasi peserta, ditambah Bahasa Inggris sebagai bahasa kerja organisasi.
Jika sebuah tim tidak memilih Bahasa Spanyol sebagai bagian dari layanan penerjemahan resmi, maka moderator akan membatasi pertanyaan pada bahasa yang tersedia agar proses konferensi berjalan lancar.
Di media sosial, banyak penggemar mempertanyakan bagaimana mungkin Bahasa Spanyol tidak mendapat tempat yang lebih besar dalam turnamen yang digelar bersama Meksiko.
Mantan penyerang Prancis, Thierry Henry, turut mengkritik kebijakan tersebut. Ia menilai langkah itu bertentangan dengan semangat inklusivitas yang selama ini digaungkan FIFA. Menurut Henry, sepak bola seharusnya menjadi ruang yang menyatukan berbagai budaya dan bahasa, bukan menciptakan hambatan komunikasi baru.
Kritik juga muncul dari sejumlah media Amerika Latin yang menilai FIFA gagal memahami karakteristik geografis dan budaya turnamen kali ini.