Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Kolaborasi KDMP dengan Kampung Industri Bawa Desa Jadi Pusat Perekonomian Baru
Eko Nordiansyah • 7 August 2026 17:37
Jakarta: Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) memberi Indonesia jaringan kelembagaan ekonomi desa yang sangat luas. Sementara Kampung Industri yang digagas Asosiasi Pengusaha BumiPutera Nusantara Indonesia (Asprindo) dapat memberi arah agar jaringan tersebut tidak hanya bergerak dalam perdagangan dan distribusi, tetapi juga memasuki kegiatan produksi.
Ketua Departemen Pertanian dan Agrobisnis DPP Asprindo Abdullah Rasyid mengatakan, program KDMP membawa harapan besar bagi penguatan ekonomi masyarakat di tingkat desa. Koperasi dapat memperpendek rantai distribusi, memperluas akses pembiayaan, membuka pasar, dan memperkuat petani, nelayan, peternak, perajin, serta pelaku usaha mikro.
"Sarana fisik memang dibutuhkan, tetapi tidak boleh menjadi ukuran utama keberhasilan. Yang penting adalah KDMP mampu membuat desa mengolah kekayaan ekonominya sendiri," kata Rasyid dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
Untuk itu, Rasyid menilai program Kampung Industri yang sedang dikembangkan Asprindo memiliki titik temu yang kuat dengan KDMP. Rasyid menyatakan, keduanya dapat dirangkai dalam satu desain pembangunan ekonomi daerah sehingga dapat membangun ekosistem produksi berdasarkan potensi unggulan setiap wilayah.
"Koperasi menghimpun masyarakat dan mengorganisasi kepemilikan usaha. Kampung Industri mempertemukan bahan baku, teknologi, sumber daya manusia, proses pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan akses pasar. Pertemuan antara keduanya dapat mengubah wajah ekonomi desa," urainya.
Angkat potensi masing-masing wilayah
Rasyid menyatakan Indonesia tidak kekurangan komoditas. Hampir setiap wilayah mempunyai kekhasan ekonomi seperti kopi, kakao, kelapa, susu, singkong, jagung, rumput laut, ikan, buah-buahan, rempah-rempah, hasil hutan, ataupun produk kerajinan. Masalahnya, sebagian besar produk keluar dari desa sebagai bahan mentah atau dengan pengolahan rendah."Karena itu, pembangunan pedesaan perlu bergerak dari orientasi komoditas menuju orientasi produk. Desa tidak cukup hanya menghasilkan. Desa harus mampu mengolah. Dan Kampung Industri bukan sekadar memindahkan pabrik ke wilayah pedesaan, namun diarahkan untuk membangun kawasan ekonomi berdasarkan keunikan dan kekhasan potensinya," tegasnya.

(Ketua Departemen Pertanian dan Agrobisnis DPP Asprindo Abdullah Rasyid (kanan). Foto: Dok istimewa)
Kehadiran KDMP, lanjutnya, dapat menjadi jantung kelembagaan Kampung Industri. Koperasi dapat menghimpun petani, nelayan, peternak, perajin, dan pelaku UMKM sebagai anggota sekaligus pemilik kegiatan ekonomi. Dengan model ini, KDMP tidak berhenti sebagai toko desa atau tempat membeli dan menjual hasil produksi.
"Di situlah koperasi menemukan kembali makna strategisnya. Koperasi bukan sekadar tempat simpan pinjam ataupun perantara perdagangan. Koperasi merupakan alat bagi masyarakat untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi dan menguasai bagian yang lebih besar dalam rantai nilai," ucapnya.
Peluang menciptakan pengusaha baru
Sinergi KDMP dan Kampung Industri harus menjadi tempat tumbuhnya pengusaha dari daerah. Ia menegaskan anak muda desa tidak cukup hanya dipersiapkan menjadi pekerja. Para anak muda perlu diberi kesempatan menjadi pengelola usaha, teknisi, perancang produk, pengembang merek, pemasar digital, eksportir, dan pemilik perusahaan."Mereka pergi karena tidak melihat masa depan ekonomi yang menjanjikan. Ketika pusat produksi, teknologi, pasar, dan kesempatan usaha hadir di daerah, perpindahan ke kota bukan lagi satu-satunya pilihan. Anak muda dapat membangun karier dan usaha di tempat kelahirannya sendiri," ucapnya.
Produk lokal yang dikelola secara profesional sekaligus dapat menjadi alat promosi daerah. Suatu wilayah tidak lagi hanya dikenal sebagai penghasil kopi, ikan, kelapa, kakao, atau singkong. Daerah tersebut mulai dikenal melalui produk, merek, kualitas, dan inovasi yang lahir dari masyarakatnya.
Untuk memastikan tujuan itu tercapai, ia menegaskan, DPP, DPW, dan DPC Asprindo perlu membangun basis data potensi ekonomi secara akurat dan berkala. Data harus mencakup komoditas unggulan, kapasitas produksi, jumlah pelaku usaha, kesiapan lahan, kondisi infrastruktur, kebutuhan teknologi, akses pembiayaan, dan peluang pasar.
"Tantangan sesungguhnya adalah membangun kemampuan masyarakat untuk mengolah kekayaan daerahnya sendiri. Di sanalah KDMP dan Kampung Industri dapat bertemu: menjadikan desa bukan hanya sebagai pasar, melainkan pusat produksi dan pertumbuhan ekonomi baru," pungkasnya.