Bendera Amerika Serikat dan Iran. (Anadolu Agency)
Iran Waspadai Potensi Konflik Baru dengan AS, Militer Siaga Penuh
Willy Haryono • 2 May 2026 19:11
Teheran: Seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan bahwa kemungkinan konflik baru dengan Amerika Serikat masih tinggi di tengah rapuhnya situasi gencatan senjata saat ini.
Wakil inspektur markas militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, menyatakan bahwa berbagai indikator menunjukkan Washington tidak dapat diandalkan dalam memenuhi komitmen internasional.
“Konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan besar terjadi, dan berbagai bukti juga menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak mematuhi komitmen atau perjanjian apa pun,” ujar Asadi, seperti dikutip kantor berita Fars dan Antara, Sabtu, 2 Mei 2026.
Ia menilai pernyataan dan langkah pejabat AS lebih banyak ditujukan untuk kepentingan media, termasuk menjaga stabilitas harga minyak global dan meredam tekanan politik domestik.
Menurut Asadi, angkatan bersenjata Iran saat ini berada dalam kesiapan penuh untuk menghadapi kemungkinan eskalasi baru maupun salah perhitungan strategis dari Washington.
Ketegangan regional meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut memicu respons militer Iran terhadap sekutu AS di kawasan Teluk serta berujung pada penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata kemudian diumumkan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, disusul pembicaraan lanjutan di Islamabad pada 11-12 April. Namun, negosiasi tersebut belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Presiden AS Donald Trump selanjutnya memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa batas waktu baru atas permintaan Pakistan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, kantor berita resmi Iran IRNA melaporkan bahwa Tehran telah mengajukan proposal baru kepada Pakistan guna melanjutkan negosiasi dengan Washington demi mencapai penyelesaian perang.
Meski demikian, keberhasilan upaya diplomatik tersebut masih belum dapat dipastikan.
Baca juga: Tiongkok Minta Iran-AS Jaga Gencatan Senjata dan Buka Kembali Selat Hormuz