Hamas Sebut Israel Kini Kuasai 62 Persen Gaza usai Perluas Garis Kontrol

Seorang pejuang Hamas bersiaga di dekat sebuah ambulans di Gaza. (Anadolu Agency)

Hamas Sebut Israel Kini Kuasai 62 Persen Gaza usai Perluas Garis Kontrol

Muhammad Reyhansyah • 4 May 2026 12:37

Gaza: Pejabat senior kelompok pejuang Palestina Hamas mengatakan bahwa pasukan pendudukan Israel terus memperluas kendali mereka di Jalur Gaza, melampaui batas-batas yang telah ditetapkan dalam gencatan senjata sejak Oktober 2025.

Mengutip PressTV, Senin, 4 Mei 2026, anggota biro politik Hamas Bassem Naim menyatakan Israel telah menggeser apa yang kini disebut sebagai “garis oranye” sejauh tambahan 8 hingga 9 persen ke dalam wilayah Palestina.

Langkah itu, menurutnya, membuat area yang kini berada di bawah kendali Israel meningkat menjadi lebih dari 62 persen, menyisakan sekitar 38 persen wilayah Gaza untuk warga Palestina.

Perluasan tersebut disebut secara drastis mengurangi ruang hidup penduduk dan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berada dalam kondisi katastrofik.

Perkembangan ini mengikuti pembentukan “Yellow Line” atau garis kuning oleh Israel, yang sebelumnya menjadi batas penempatan militer Israel pada fase pertama gencatan senjata.

Sumber-sumber lokal melaporkan penanda-penanda Israel secara bertahap dipindahkan semakin jauh ke dalam Gaza, yang secara efektif menggambar ulang batas di lapangan.

Pergerakan itu memicu gelombang pengungsian baru, terutama di Khan Yunis, Gaza bagian timur, dan sejumlah wilayah Gaza utara.

Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Stephane Dujarric turut mengonfirmasi perkembangan tersebut. “Sekarang ada garis warna lain. Sebuah garis yang disebut garis oranye telah diperkenalkan kepada rekan-rekan kemanusiaan kami,” kata Dujarric.

Ia menambahkan tim PBB diberitahu bahwa setiap pergerakan melampaui garis tersebut harus dikoordinasikan terlebih dahulu dengan otoritas Israel.

Ruang Hidup yang Kian Menyempit

Dalam kesepakatan gencatan senjata, Yellow Line semula dimaksudkan untuk memisahkan zona kehadiran militer Israel di bagian timur dari area tempat warga Palestina dapat tetap tinggal di bagian barat, yang awalnya mencakup sekitar 53 persen wilayah.

Namun, sumber Palestina mengatakan Israel terus mendorong batas itu ke arah barat dalam beberapa bulan terakhir.

Alih-alih mundur sebagaimana diharuskan dalam perjanjian, pasukan Israel disebut terus merebut lebih banyak lahan Palestina di seluruh Gaza.

Bagi warga Palestina, lapisan demi lapisan “garis” tersebut membuat ruang hidup mereka terus menyusut dan mengubah kehidupan sehari-hari di wilayah kantong itu.

Lebih dari dua juta orang kini terkungkung di area yang semakin sempit di tengah kondisi kemanusiaan yang memburuk dan pembatasan yang terus berlangsung. Para analis memperingatkan batas-batas yang terus berubah ini berisiko menjadi kenyataan permanen di lapangan.

Awal tahun ini, Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir bahkan menyebut Yellow Line sebagai “garis perbatasan baru.”

Pada Maret, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga mengklaim lebih dari separuh Gaza telah berada di bawah kendali Israel.

Israel disebut berulang kali melanggar gencatan senjata dengan menewaskan ratusan warga Palestina dan melukai ribuan lainnya sejak kesepakatan berlaku.

Gencatan senjata itu sejatinya dimaksudkan untuk mengakhiri perang dua tahun Israel di Gaza yang menewaskan lebih dari 72.500 warga Palestina, melukai 172 ribu lainnya, dan menghancurkan hampir 90 persen infrastruktur sipil.

Baca juga:  Hamas Sebut Pencegatan Armada Global Sumud oleh Israel sebagai Pembajakan

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)