Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/agr
Tidak Hanya Sistem, Keselamatan Perkeretaapian Harus Berbasis Budaya
Muhamad Marup • 3 May 2026 23:18
Jakarta: Kecelakaan kereta di Bekasi Timur harus menjadi sorotan semua pihak agar kejadian yang sama tidak berulang. Solusi atas keselamatan perkeretapian tidak hanya datang dari pemerintah, tapi dari masyarakat sehingga peran budaya tidak kalah penting.
Pakar perkeretaapian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, menegaskan bahwa perbaikan teknologi saja tidak cukup. Keselamatan perkeretaapian harus menjadi budaya yang mendarah daging, bukan sekadar sistem formal.
Ia menekankan, bahwa keselamatan adalah kombinasi elemen teknologi, manajemen, serta faktor manusia. Tanpa budaya keselamatan yang kuat, sistem secanggih apa pun tetap berpotensi mengalami kegagalan fatal.
Sri Atmaja menilai, selain aspek teknis, keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan di perlintasan sebidang juga menjadi faktor penentu. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi utama dalam menciptakan sistem transportasi publik yang aman.
"Jika budaya keselamatan sudah tertanam, maka sistem akan berjalan lebih efektif. Targetnya jelas: Zero Accident!" tegasnya.
Tunggu hasil KNKT
Terkait penyebab kecelakaan di Bekasi Timur, Sri Atmaja meminta publik menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Menurutnya, spekulasi yang berkembang tidak boleh menjadi dasar penilaian sebelum ada data objektif.Ia menyebut, investigasi ini penting untuk mengungkap akar masalah (root cause) secara objektif, baik dari aspek teknis maupun sistemik. Apakah insiden disebabkan oleh faktor teknis, manusia, atau kegagalan sistemik, semuanya harus terungkap secara transparan.
"Hal ini penting agar seluruh pemangku kepentingan dapat melakukan perbaikan demi mencegah kejadian serupa di masa depan," ucapnya.
Wilayah Jabodetabek jadi tantangan
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuter Line setelah bertabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nz/am.
Sri Atmaja menilai, kepadatan jalur kereta di wilayah Jabodetabek menjadi tantangan besar bagi sistem keselamatan. Dengan jarak antar kereta (headway) yang semakin pendek, sistem harus bekerja dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.Ia menambahkan, pentingnya penguatan sistem fail-safe untuk mencegah kegagalan kecil memicu kecelakaan besar. Prinsip ini menjamin bahwa kegagalan satu komponen tidak akan langsung memicu kecelakaan.
"Misalnya, melalui penerapan sistem interlocking dan pengereman berlapis sebagai langkah mitigasi risiko yang efektif," jelasnya.