AS dan Tiongkok termasuk dalam daftar negara dengan work-life balance terburuk tahun 2025. (EFE/EPA/MARK SCHIEFELBEIN)
10 Negara dengan Work-Life Balance Terburuk di Dunia, AS Termasuk
Riza Aslam Khaeron • 3 May 2026 17:08
Jakarta: Di era modern, kesuksesan karier tidak lagi bisa diukur semata dari produktivitas atau jam kerja yang panjang. Keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan atau yang dikenal sebagai work-life balance — kini menjadi salah satu indikator penting kualitas hidup seorang pekerja.
Setiap tahun, perusahaan manajemen tenaga kerja global Remote menerbitkan indeks work-life balance yang menilai 60 negara dengan PDB terbesar di dunia. Penilaian dilakukan berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari jumlah cuti tahunan yang dijamin undang-undang, akses layanan kesehatan, keamanan publik, indeks kebahagiaan, hingga rata-rata jam kerja per pekan. Setiap negara diberi skor dari 0 hingga 100.
Hasilnya cukup mengejutkan — beberapa negara besar dan ekonomi kuat justru masuk dalam daftar yang paling buruk. Berikut 10 negara dengan work-life balance terburuk di dunia versi Remote Index 2025.
1. Nigeria — Skor 30,07
Nigeria menempati posisi paling buncit dari 60 negara yang diteliti dengan skor hanya 30,07. Rata-rata jam kerja di negara ini mencapai 43,42 jam per pekan. Selain beban kerja yang tinggi, sistem kesehatannya dikategorikan sebagai sistem asuransi non-universal dengan indeks kebahagiaan rendah di angka 4,89.Faktor keamanan publik yang minim kian memperburuk kondisi tersebut, menjadikan Nigeria sebagai negara dengan kombinasi tekanan kerja dan kualitas hidup terberat dalam indeks ini.
2. Amerika Serikat — Skor 34,28
Amerika Serikat menjadi temuan paling mengejutkan. Negara adidaya ini berada di peringkat 59 dari 60 dengan skor 34,28, merosot tajam dari tahun-tahun sebelumnya.Masalah utamanya bukan sekadar jam kerja rata-rata (37,56 jam per pekan), melainkan minimnya jaminan cuti berbayar secara federal. Remote mencatat AS memiliki 0 hari jatah cuti tahunan yang dijamin undang-undang dan tidak memiliki skema upah selama cuti sakit minimum yang jelas. Sistem kesehatan yang bersifat campuran non-universal membuat akses layanan medis sangat bergantung pada kemampuan finansial individu.
3. Mesir — Skor 36,90
Mesir menempati posisi ketiga terburuk dengan skor 36,90. Rata-rata jam kerjanya mencapai 44,44 jam per pekan, lebih tinggi dibandingkan Amerika Serikat maupun Nigeria. Meski secara regulasi Mesir memberikan 21 hari cuti tahunan, indikator lain justru menekan posisinya: sistem kesehatan non-universal, indeks kebahagiaan yang hanya 3,82, serta skor keamanan yang rendah.Hal ini menunjukkan bahwa persoalan di Mesir mencakup keseimbangan kerja sekaligus kualitas hidup secara umum.
4. Ethiopia — Skor 37,61
Ethiopia mencatat skor 37,61. Uniknya, rata-rata jam kerja di sini relatif lebih rendah, yakni 31,92 jam per pekan. Namun, durasi kerja yang pendek tidak otomatis menciptakan keseimbangan hidup yang baik.Masalah fundamental terletak pada rendahnya kualitas hidup, seperti sistem asuransi kesehatan berbasis masyarakat, indeks kebahagiaan di angka 3,90, serta upah minimum yang sangat rendah, mencerminkan lemahnya perlindungan dasar bagi para pekerja.
5. Irak — Skor 37,66
Serupa dengan Ethiopia, Irak memiliki rata-rata jam kerja yang tidak terlalu tinggi, yakni 31,72 jam per pekan. Namun, skor work-life balance-nya tertahan di angka 37,66. Faktor penekan terbesar adalah kondisi keamanan yang tidak stabil, sistem kesehatan non-universal, dan indeks kebahagiaan di angka 4,98.Kasus Irak mempertegas bahwa rasa aman dan stabilitas sosial adalah komponen krusial dalam menciptakan keseimbangan hidup.
.jpg)
Ilustrasi: Freepik.
6. Pakistan — Skor 38,27
Pakistan berada di peringkat keenam dengan skor 38,27. Negara ini memiliki rata-rata jam kerja mencapai 46,93 jam per pekan—salah satu yang tertinggi dalam daftar ini. Dengan waktu kerja hampir 47 jam seminggu, pekerja memiliki waktu yang sangat terbatas untuk keluarga dan pemulihan diri.Ditambah sistem kesehatan non-universal dan indeks kebahagiaan 4,77, kondisi ini menempatkan Pakistan dalam kelompok beban kerja paling ekstrem.
| Baca Juga: Kepuasan Publik Tembus 70%, Kinerja Kabinet Merah Putih Tuai Apresiasi |
7. Qatar — Skor 38,33
Qatar mencatat rata-rata jam kerja hingga 48 jam per pekan, menjadikannya salah satu yang terlama dalam indeks Remote. Meski sistem kesehatannya sudah menggunakan sistem asuransi publik, skor work-life balance-nya tetap rendah (38,33) akibat tekanan jam kerja yang masif dan skor inklusivitas yang rendah.Qatar menjadi contoh nyata bahwa kemakmuran ekonomi tidak selalu menjamin kualitas hidup yang ideal bagi para pekerjanya.
8. Bangladesh — Skor 39,45
Bangladesh berada di posisi kedelapan dengan skor 39,45. Rata-rata jam kerjanya mencapai 46,02 jam per pekan. Selain beban durasi kerja, para pekerja menghadapi tekanan ekonomi serius dengan upah minimum yang sangat rendah, sistem kesehatan non-universal, serta indeks kebahagiaan di angka 3,85—salah satu yang terendah di dunia.9. India — Skor 41,00
India menempati posisi kesembilan dengan skor 41,00. Budaya kerja yang intens terlihat dari rata-rata jam kerja yang mencapai 45,72 jam per pekan. Meski memiliki sistem asuransi kesehatan publik, indeks kebahagiaan yang rendah (4,39) serta skor keamanan dan inklusivitas yang belum optimal membuat India tetap berada di daftar bawah.Pertumbuhan ekonomi yang pesat di sana rupanya belum diikuti oleh pemerataan kualitas hidup pekerja.
10. Tiongkok — Skor 42,64
Tiongkok menutup daftar ini di peringkat kesepuluh dengan skor 42,64. Rata-rata jam kerjanya mencapai 46,10 jam per pekan dengan jatah cuti tahunan minimum hanya 5 hari. Meski indeks kebahagiaannya (5,92) lebih baik dibanding negara lain dalam daftar ini, durasi kerja yang panjang dan minimnya waktu istirahat menjadi faktor utama yang menekan skor keseluruhannya.Tiongkok membuktikan bahwa ekonomi raksasa sekalipun bisa tertinggal dalam hal keseimbangan hidup-kerja.
Biasanya, Jepang sering dikaitkan dengan buruknya keseimbangan kerja dan hidup karena budaya lembur yang ekstrem. Namun, dalam indeks ini posisi Jepang berada di peringkat ke-29 dari 60 negara dan tertolong indikator seperti sistem kesehatan yang mumpuni, tingkat keamanan publik yang tinggi, serta kualitas hidup yang jauh lebih baik dibandingkan negara-negara di posisi terbawah.
Adapun Indonesia tidak masuk dalam kelompok 10 negara terburuk versi Global Life-Work Balance Index 2025 dari Remote. Indonesia berada di peringkat 35 dari 60 negara dengan skor 51,22. Meski tidak masuk zona merah, posisinya belum bisa dikatakan ideal.