Ilustrasi. Foto: Freepik.
Ruang Penguatan Emas Terbuka, Ini yang Perlu Diperhatikan Investor
Eko Nordiansyah • 29 April 2026 11:00
Jakarta: Pasar logam mulia dunia hari ini tengah berada dalam fase krusial. Berdasarkan analisis dari analis Dupoin Futures Indonesia Geraldo Kofit, harga emas dunia (XAU/USD) menunjukkan potensi pemulihan yang signifikan setelah sempat mengalami tekanan hebat di sesi-sesi sebelumnya.
Geraldo mengatakan, pergerakan harga hari ini diprediksi akan didominasi oleh sentimen pembalikan arah atau reversal, yang memberikan angin segar bagi para pelaku pasar yang mengharapkan penguatan kembali logam mulia ini di tengah dinamika ekonomi global yang dinamis.
Meninjau grafik pada time frame satu jam (H1), Geraldo Kofit menyoroti perubahan dari struktur harga. Meskipun tren jangka pendek sebelumnya terlihat melemah akibat penembusan area support penting pada time frame harian (daily), kondisi saat ini menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
"Harga emas terlihat mulai membentuk apa yang disebut sebagai base area atau zona konsolidasi di tingkat bawah. Formasi ini sering kali dianggap oleh para teknikal analis sebagai pondasi awal bagi harga untuk melakukan ancang-ancang sebelum melonjak naik kembali," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu, 29 April 2026.
Dengan kondisi tersebut, peluang emas untuk bergerak naik menuju level resistansi terdekat sangat terbuka lebar. Target kenaikan jangka pendek diproyeksikan akan menguji level resistance yang berada di angka 4633.24. Serta jika momentum berlanjut, tidak menutup kemungkinan harga akan mengejar resistance di level 4.657,46.
Di sisi lain, para investor perlu memperhatikan batas bawah atau support untuk memitigasi risiko. Level support di 4.574,31 dan support di 4.555,30 menjadi area krusial yang harus dipertahankan agar skenario bullish ini tetap valid dan tidak terbatalkan oleh tekanan jual baru.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Dukungan faktor fundamental yang kuat
Faktor utama yang memicu ruang rebound bagi emas adalah adanya aksi ambil untung atau profit taking pada mata uang dolar Amerika Serikat. Setelah mengalami periode penguatan yang cukup panjang, dolar kini tengah menghadapi fase jenuh beli, yang secara psikologis mendorong investor untuk merealisasikan keuntungan mereka."Pelemahan dolar AS ini secara langsung meningkatkan daya tarik emas sebagai aset alternatif yang lebih murah bagi pemegang mata uang lain," ujar Geraldo.
Lebih lanjut, Geraldo menambahkan, penurunan sementara pada imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS turut menjadi faktor pendukung utama. Dalam mekanisme pasar, ketika yield obligasi melemah, maka opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas akan ikut menurun.
"Hal ini membuat investor cenderung beralih kembali ke emas untuk mengamankan nilai aset mereka. Selain itu, munculnya kembali permintaan safe haven akibat ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global semakin memperkokoh posisi emas sebagai pelabuhan aman di tengah badai pasar," ungkapnya.
Meskipun potensi jangka pendek terlihat sangat positif, Geraldo Kofit mengingatkan bahwa kebijakan Federal Reserve (The Fed) yang masih cenderung mempertahankan suku bunga tinggi dapat menjadi penghambat utama bagi kenaikan emas dalam jangka menengah hingga panjang.
"Oleh karena itu, disiplin dalam pengelolaan risiko tetap menjadi kunci utama bagi para trader dalam menghadapi volatilitas pasar hari ini," kata Geraldo.