Trump dan Xi Jinping Saling Adu Kartu Truf di Tengah Gencatan Perang Dagang

Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump dalam acara jamuan makan malam di Beijing. (Xinhua)

Trump dan Xi Jinping Saling Adu Kartu Truf di Tengah Gencatan Perang Dagang

Dimas Chairullah • 16 May 2026 08:39

Jakarta: Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei 2026 menjadi babak baru dalam rivalitas panjang kedua negara. 

Di tengah terhentinya sementara perang dagang (trade truce), kedua negara adidaya ini sama-sama membawa 'kartu truf' atau bargaining chips yang saling menyandera.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Poppy Sulistyaning Winanti menilai, fokus utama Tiongkok saat ini adalah mengamankan akses terhadap teknologi tinggi milik AS, khususnya Artificial Intelligence (AI).

Sementara itu, posisi Amerika Serikat juga sangat berkepentingan untuk mengamankan akses terhadap pasokan mineral kritis,  yang selama ini rantai pasoknya dikontrol ketat oleh Beijing.

"Jadi dua-duanya sebetulnya punya bargaining chips (posisi tawar) masing-masing yang akan menentukan dinamika perundingan," ungkap Poppy kepada Metrotvnews.com, Jumat, 15 Mei 2026.

Menariknya, kehadiran delegasi pebisnis AS dalam pertemuan tersebut berpotensi membelokkan arah kebijakan Washington. Poppy menyoroti adanya perbedaan logika antara pemerintah AS yang berfokus pada isu keamanan nasional, dengan para pebisnis yang haus akan ekspansi pasar.

"Bagi pebisnis, bisa menjual produk AI-nya ke Tiongkok itu jauh lebih menguntungkan ketimbang direstriksi oleh pemerintah. Peran CEO dari Amerika Serikat ini mungkin bisa menjadi penentu dinamika negosiasi yang berlangsung," pungkasnya.

Ketegangan ekonomi antara Washington dan Beijing ini sejatinya merupakan babak lanjutan dari masa jabatan pertama Donald Trump. Kala itu, kebijakan tarif impor besar-besaran yang diterapkan pemerintahan Trump memicu dimulainya era perang dagang terbuka dengan Tiongkok. Kini, pertemuan tatap muka Trump dan Xi kembali menguji kompromi ekonomi kedua raksasa tersebut.

Meski demikian, respons positif pasar saham global saat ini dinilai Poppy hanya sebagai sinyal relaksasi dan gencatan senjata jangka pendek, bukan penyelesaian tuntas atas konflik struktural kedua negara.

Baca juga:  Xi Jinping Sebut Kunjungan Trump Tingkatkan Kepercayaan AS-Tiongkok

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)