Foto satelit Selat Hormuz. Foto: dok NASA.
Mengapa Selat Hormuz Jadi Kunci Pasokan Minyak Dunia?
Husen Miftahudin • 19 March 2026 15:30
Jakarta: Jalur distribusi minyak global di Selat Hormuz atau sering disebut energy chokepoint menjadi sorotan di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada terganggunya pasokan energi dan lonjakan harga minyak dunia.
Dilansir dari World Economic Forum pada 17 Maret 2026, sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia melewati Selat Hormuz, menjadikannya salah satu titik paling krusial dalam rantai pasok energi global.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Jalur distribusi utama
Berdasarkan data International Energy Agency, sebagian besar distribusi minyak tersebut ditujukan ke kawasan Asia, seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, sehingga negara-negara tersebut menjadi pihak yang paling rentan terhadap gangguan pasokan.
Namun, sejak konflik di Iran meningkat pada akhir Februari 2026, jalur tersebut mengalami gangguan signifikan yang menyebabkan kapal tanker terhambat dan pasokan energi global terganggu.
Kondisi ini turut mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent hingga mencapai sekitar USD106 per barel atau sekitar Rp1,8 juta per barel, dari sebelumnya sekitar USD70 per barel atau sekitar Rp1,1 juta per barel.
Sejumlah negara produsen minyak di kawasan Teluk seperti Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk menyalurkan ekspor mereka. Sementara itu, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab hanya memiliki jalur alternatif terbatas untuk distribusi minyak.
| Baca juga: Harga Minyak Lompat Lebih dari 3%, Brent Sentuh USD111/Barel |
Cadangan minyak terbesar dunia
Dari sisi cadangan, data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) saat ini menunjukkan Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, yaitu lebih dari 303 miliar barel, diikuti Arab Saudi dengan 267 miliar barel, kemudian Iran 208 miliar barel, Irak dengan 145 miliar barel, dan Uni Emirat Arab 113 miliar barel.
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menunjukkan tingginya ketergantungan dunia terhadap jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz, sekaligus memperkuat dorongan untuk mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. (Rosa Salma F)
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com