Metode tersebut diperkenalkan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) bertajuk "Peningkatan Kompetensi Guru Kimia melalui Penggunaan Fun Chemistry sebagai Ice Breaking dalam Pembelajaran Kimia" di SMAN 1 Pangandaran.
Ketua pelaksana kegiatan, Ali Kusrijadi, mengatakan fun chemistry bukan sekadar menghadirkan atraksi sains di dalam kelas, melainkan sebuah pola pembelajaran yang menempatkan eksperimen sebagai pintu masuk untuk memahami konsep kimia.
"Selama ini pembelajaran kimia masih sering dipersepsikan sulit karena siswa lebih dahulu dihadapkan pada teori dan rumus. Melalui fun chemistry, kami membalik pola tersebut. Siswa diajak mengamati fenomena sederhana lebih dulu, kemudian guru mengaitkannya dengan konsep ilmiah. Dengan cara ini, rasa ingin tahu tumbuh terlebih dahulu sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna," kata Ali di Bandung, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Menurut Ali, strategi ice breaking berbasis eksperimen juga bertujuan mengubah paradigma guru dalam menyampaikan materi. Guru tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga fasilitator yang membangun pengalaman belajar melalui observasi, diskusi, dan pembuktian ilmiah.
"Fun chemistry bukan tujuan akhir, tetapi jembatan agar siswa lebih mudah memahami materi. Percobaan yang digunakan harus sederhana, aman, mudah diterapkan di sekolah, dan memiliki keterkaitan langsung dengan kompetensi yang sedang dipelajari. Jadi, bukan sekadar membuat siswa terhibur," beber Ali.
Sebanyak 22 guru kimia dari jenjang SMA, MA, dan SMK se-Kabupaten Pangandaran mengikuti workshop tersebut. Mereka dibekali cara memilih, menganalisis, hingga memodifikasi berbagai percobaan sederhana agar dapat dimasukkan ke dalam modul pembelajaran sebagai bagian dari strategi ice breaking.
Pada pelatihan itu, guru tidak hanya mempraktikkan eksperimen, tetapi juga mengevaluasi efektivitas setiap percobaan berdasarkan durasi pelaksanaan, tingkat keamanan, kemudahan penggunaan alat dan bahan, serta relevansinya terhadap materi ajar. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun model pembelajaran yang lebih aktif dan kontekstual.
"Dua narasumber nasional, Dr rer nat Omay Sumarna, dan Dr paed Sjaeful Anwar, turut memberikan penguatan mengenai pentingnya inovasi pembelajaran agar siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga memahami proses ilmiah melalui pengalaman langsung," ungkap Ali.
Sementara itu, 206 siswa kelas XI SMAN 1 Pangandaran mengikuti sesi demonstrasi yang menampilkan 20 eksperimen fun chemistry. Berbagai percobaan sederhana diperagakan untuk menjelaskan konsep-konsep kimia secara visual sehingga lebih mudah dipahami sekaligus meningkatkan minat belajar siswa terhadap sains.
"Melalui metode ini diharapkan menjadi salah satu model pembelajaran yang dapat diadopsi sekolah untuk membangun kelas yang lebih interaktif," tandas Ali.