Pertamina Diyakini Ambil Langkah Penstabilan untuk Jaga Level Cadangan BBM

Ilustrasi BBM. Foto- dok Istimewa

Pertamina Diyakini Ambil Langkah Penstabilan untuk Jaga Level Cadangan BBM

Achmad Zulfikar Fazli • 5 March 2026 15:57

Jakarta: Masyarakat diharapkan tidak khawatir terkait cadangan bahan bakar minyak (BBM) Indonesia saat ini sekitar 20 hari. PT Pertamina (Persero) diyakin bakal melakukan langkah-langkah penstabilan pasokan guna menjaga level cadangan.

Level cadangan BBM tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam laporan Desember 2025, misalnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut sebagian besar jenis BBM di Indonesia berada di atas standar minimum cadangan yang ditetapkan. Contohnya, sekitar 19–31 hari untuk berbagai produk BBM tertentu. 

Sedangkan, Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak, menyebut Pemegang Izin Usaha wajib menyediakan Cadangan Operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari. 

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengatakan pencadangan adalah seberapa jauh pemerintah dan Pertamina memiliki dana untuk menyetok. Bukan hanya bahan-bahan, tetapi gudangnya, jalur distribusi, pengapalan, dan sebagainya.

“Itu artinya, rata-rata kemampuan keuangan kita mencadangkan segitu. Bukan berarti harinya semakin turun, berarti kan dia akan relatif volatilitasnya di angka segitulah. Kenapa enggak bulanan? Karena kemampuan keuangan kita terbatas. Selain itu, kita adalah negara importir,” ujar Tauhid, Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.

Tauhid menilai positif berbagai perencanaan pasokan oleh Pertamina. Mulai dari produksi kilang hingga impor energi. Berbagai perencanaan tadi, menurut dia, penting agar cadangan tetap terjaga.

Tauhid mencontohkan langkah Pertamina dan pemerintah yang segera mengalihkan impor minyak mentah dari kawasan Arab. Di tengah kondisi kawasan Teluk yang terus memanas, upaya tersebut merupakan hal positif. Termasuk rencana mengimpor dari Brasil atau Amerika Serikat. 

“Menurut saya itu pilihan baik, karena kawasan itu kan bebas dari konflik saat ini,” ujar Tauhid.
 

Baca Juga: 

Bahlil Berencana Tambah Stok BBM dari 25 Hari Jadi 90 Hari



Ilustrasi. Foto: Dok istimewa

Menurut Tauhid, saat ini, impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi sekitar 20 persen dari kesuluruhan. Selain itu, Indonesia mengimpor dari Nigeria maupun Angola

Tauhid menganjurkan agar kontrak-kontrak untuk impor minyak mentah harus segera dilakukan. Sebab, harga minyak mentah saat ini terus meningkat di tengah gejolak konflik AS-Israel dengan Iran. Apalagi, negara-negara seluruh dunia akan memperebutkan.

“Lebih baik (kontrak dilakukan segera). Karena kita nggak pasti. Kan katanya perangnya berkepanjangan,” ujar Tauhid. 

Tauhid juga mengingatkan jangan sampai impor dilakukan saat harga minyak mentah mencapai USD100 per barel. Hal itu akan membuat APBN jebol karena defisitnya akan melampaui 3 persen.

“Sekarang kan baru sekitar 78 dolar AS per barel,” kata dia.

Tauhid juga mengingatkan kuota cadangan BBM Indonesia sebaiknya ditambah di tengah konflik Timur Tengah. Kalau bisa, cadangan BBM mencapai sekitar 1–2 bulan. 

Hal itu, kata dia, untuk mengantisipasi terkendalanya jalur-jalur distribusi dunia akibat konflik tersebut. Termasuk penutupan Selat Hormuz saat ini yang membuat dunia akan mengalami kelangkaan kapal-kapal tanker.

“Sebenarnya kalau menurut saya semakin banyak cadangan, semakin baik buat kita. Cadangan itu kan ada dari sisi ketersediaan, distribusi, juga kemampuan keuangan negara,” kata Tauhid.

Selain itu, Pertamina harus menyiapkan rencana cadangan jika situasi terus memburuk, sehingga kebutuhan BBM masyarakat tidak terganggu.

Dengan sejumlah rencana tersebut, Tauhid menilai masyarakat tidak perlu khawatir cadangan BBM Indonesia akan habis dalam waktu sekitar 20 hari. Setidaknya sudah ada rencana pengalihan impor ke kawasan yang lebih aman. 

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan saat ini cadangan BBM nasional cukup untuk 20 hari. Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil saat akan menghadiri rapat mengenai kondisi terkini geopolitik terkini di Istana Negara, Jakarta, Senin, 2 Maret 2026.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)