Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu
Trump Ancam Tarif 50 Persen bagi Negara Pemasok Senjata ke Iran
Muhammad Reyhansyah • 9 April 2026 23:07
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif sebesar 50 persen terhadap negara mana pun yang memasok senjata kepada Iran, hanya beberapa jam setelah menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan Teheran.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kebijakan tersebut akan berlaku segera tanpa pengecualian.
“Negara mana pun yang memasok senjata militer ke Iran akan langsung dikenai tarif 50 persen atas seluruh barang yang dijual ke Amerika Serikat, berlaku segera tanpa pengecualian,” tulisnya, tanpa menyebutkan negara tertentu.
Langkah ini muncul setelah lebih dari lima pekan serangan terhadap fasilitas militer dan industri persenjataan Iran. Trump kini kembali menggunakan instrumen tarif sebagai alat tekanan, termasuk dengan memberi peringatan kepada Tiongkok dan Rusia agar tidak memasok kembali persenjataan ke Teheran.
Survei: Mayoritas Warga AS Dukung Pemakzulan Trump atas Perang Iran
Namun, baik Tiongkok maupun Rusia membantah telah melakukan pengiriman senjata dalam waktu dekat, meskipun tuduhan terhadap Moskow masih terus beredar.
Di sisi lain, Mahkamah Agung AS sebelumnya telah membatasi kewenangan Trump dalam menerapkan tarif secara luas di bawah Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA), dengan memutuskan bahwa penerapan tarif global berdasarkan aturan tersebut tidak sah.
Dampak dan Kalkulasi Ekonomi-Politik
Mengutip AsiaOne, sejumlah laporan menyebut Tiongkok dan Rusia selama ini berkontribusi dalam pengembangan kapasitas militer Iran, termasuk melalui pasokan rudal dan sistem pertahanan udara. Namun, dukungan tersebut disebut terbatas selama periode serangan AS dan Israel.Sebelumnya, laporan menyebut Iran mempertimbangkan pembelian rudal jelajah anti-kapal supersonik dari Tiongkok, serta dugaan pengiriman peralatan produksi semikonduktor ke sektor militer Iran oleh perusahaan Tiongkok.
Meski demikian, Kementerian Pertahanan Tiongkok membantah tuduhan tersebut.
“Tiongkok selalu bersikap terbuka dan transparan dalam isu Iran, menjaga posisi yang objektif dan tidak memihak, serta konsisten mendorong dialog damai tanpa melakukan tindakan yang dapat memperkeruh situasi,” ujar juru bicara Zhang Xiaogang.
Ia juga menambahkan bahwa komunitas internasional dapat menilai sendiri pihak mana yang memperburuk konflik.
Analis dari Atlantic Council, Josh Lipsky, menilai ancaman tarif ini terutama ditujukan kepada Tiongkok, meskipun implementasinya dalam waktu dekat dinilai kecil kemungkinannya karena dapat mengganggu rencana kunjungan Trump ke Beijing untuk bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyatakan bahwa pemerintahan Trump tetap ingin menjaga stabilitas hubungan dengan Tiongkok, termasuk memastikan akses terhadap mineral tanah jarang, sambil menghindari konfrontasi besar.
Dalam praktiknya, opsi kebijakan tarif yang tersedia bagi Trump kini lebih terbatas. Salah satu yang mungkin digunakan adalah mekanisme “Section 301” terkait praktik perdagangan tidak adil, atau “Section 232” yang berfokus pada perlindungan industri strategis atas dasar keamanan nasional.
Selama beberapa tahun terakhir, kebijakan tarif AS terhadap Tiongkok telah menurunkan nilai impor secara signifikan, dari lebih dari USD 538 miliar pada 2018 menjadi sekitar USD 308 miliar pada 2025.
Sementara itu, impor AS dari Rusia juga menurun drastis sejak invasi Ukraina pada 2022 dan penerapan sanksi finansial terhadap Moskow, meskipun beberapa komoditas strategis seperti paladium, pupuk, dan uranium masih diperdagangkan dalam jumlah terbatas.