IRGC Bantah Luncurkan Rudal Iran Selama Gencatan Senjata

Deretan rudal yang dimiliki Iran. Foto: IRNA

IRGC Bantah Luncurkan Rudal Iran Selama Gencatan Senjata

Muhammad Reyhansyah • 10 April 2026 17:17

Teheran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membantah keras laporan yang menyebut adanya serangan rudal dan drone terhadap negara-negara tetangga selama periode gencatan senjata.

Dalam pernyataan yang dirilis Kamis, 9 April 2026, IRGC menyebut sejumlah pemberitaan media mengenai dugaan serangan Iran ke wilayah di sepanjang pesisir selatan Teluk Persia sebagai bagian dari “propaganda” yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

IRGC menegaskan bahwa angkatan bersenjata Iran tidak melakukan peluncuran rudal ke negara mana pun selama masa gencatan senjata berlangsung.

“Jika laporan tersebut benar, maka itu pasti merupakan tindakan yang direkayasa oleh pihak musuh, yakni rezim Zionis atau Amerika Serikat,” demikian isi pernyataan tersebut, dikutip dari Tasnim News Agency, Jumat, 10 April 2026.

IRGC juga menyatakan bahwa setiap operasi militer yang dilakukan Iran akan dilakukan secara terbuka dan diumumkan melalui pernyataan resmi.

“Mengenai setiap tindakan yang tidak diumumkan secara resmi oleh Republik Islam Iran, maka hal itu tidak terkait dengan angkatan bersenjata Iran,” tegas pernyataan itu.

Pernyataan ini muncul di tengah konflik yang meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari, yang oleh Teheran disebut sebagai serangan tanpa provokasi dan menyebabkan korban jiwa, termasuk pejabat militer dan warga sipil.

Sebagai respons, angkatan bersenjata Iran melancarkan serangan balasan terhadap target Amerika Serikat dan Israel di kawasan, yang diklaim menyebabkan kerusakan signifikan pada aset militer kedua negara.

Di tengah eskalasi tersebut, mediasi Pakistan menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang disertai rencana perundingan di Islamabad.

Iran disebut mengajukan proposal 10 poin sebagai dasar negosiasi, termasuk penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi, serta pengaturan kontrol atas Selat Hormuz.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sebelumnya menyatakan bahwa konflik tersebut menghasilkan “kemenangan bersejarah” bagi Iran dan memaksa Amerika Serikat menerima kerangka negosiasi, termasuk jaminan non-agresi dan penghentian permusuhan.

Meski demikian, Iran menegaskan bahwa proses negosiasi tidak menandai berakhirnya konflik, melainkan perpanjangan arena persaingan ke ranah diplomasi, dengan tetap menunjukkan sikap tidak percaya terhadap Amerika Serikat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)