Mengenal Vuvuzela, Terompet dari Afrika yang Dilarang di Piala Dunia 2026

Ilustrasi vuvuzela. Foto: Wikimedia

Mengenal Vuvuzela, Terompet dari Afrika yang Dilarang di Piala Dunia 2026

Muhamad Marup • 9 June 2026 15:21

Jakarta: FIFA melakukan sejumlah larangan kontroversi dalam Piala Dunia 2026. Selain pelarangan botol minum pakai ulang, FIFA juga melarang vuvuzela, terompet yang berasal dari Afrika Selatan.

Vuvuzela ditulis secara khsus dalam FIFA World Cup 2026 Stadium Code of Conduct. Dalam aturan tersebut vuvuzela, peluit, dan klakson udara masuk kategori perangkat elektronik, mekanik, atau manual yang menghasilkan kebisingan atau suara keras lainnya.

Vuvuzela sendiri identik dengan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dan berkumandang ketika tim-tim dari Afrika berlaga. Seiring berjalannya kompetisi, vuvuzela juga digunakan negara-negara lain dengan hiasan dan corak sesuai negara tersebut.

Tampilan Vuvuzela

Mengutip Science History Institute Museum & Library, vuvuzela merupakan alat pembuat suara berbentuk terompet dari plastik putih yang digunakan oleh para penggemar yang bersorak di Piala Dunia FIFA 2010 yang diadakan di Afrika Selatan.

Vuvuzela dilukis tangan dengan berbagai warna menggunakan cat akrilik. Bagian ujung terompet dihiasi dengan bendera Afrika Selatan dan badannya dihiasi dengan motif kulit binatang.

Vuvuzela adalah terompet sepanjang 60 cm yang terbuat dari cangkang plastik cetakan injeksi yang menghasilkan nada monoton yang keras, biasanya nada B flat pertama di bawah C tengah. Vuvuzela umumnya digunakan di pertandingan sepak bola di Afrika Selatan, dan telah menjadi simbol sepak bola Afrika Selatan karena stadion dipenuhi dengan suaranya.

Vuvuzela Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Foto: Science History Institute Museum & Library

Fungsi Vuvuzela

Fungsi awal vuvuzela bukan untuk pertandingan olahraga. Mengutip ewn.co.za, di banyak desa Afrika, kepala suku atau dewan tetua menginstruksikan peniup vuvuzela untuk membunyikan tanduk ketika tiba waktunya untuk membahas masalah komunitas.

Frekuensi akustik yang unik memberi sinyal kepada penduduk desa tentang tujuan pertemuan tersebut baik pertemuan rutin, perayaan, Maupun keadaan darurat.

Di seluruh komunitas penggembala di Afrika Timur, seperti Maasai dan Samburu, vuvuzela dimainkan untuk menandai upacara kedewasaan seperti lmuget dan ritual penting lainnya.

Pelarangan tidak terkait rasisme

Palarangan vuvuzela bukan hanya dalam Piala Dunia 2026 saja. Berbagai kompetisi juga melakukan hal serupa.

Dalam artikel yang terbit di ewn.co.za tersebut, pelarangan vuvuzela tidak ada kaitannya dengan rasisme. Artikel tersebut juga memberi tiga alasan logis pelarangan vuvuzela yaitu:
  1. Komunikasi di lapangan
  2. Kesehatan pendengaran
  3. Kualitas siaran

(Muhamad Marup)