Logo IMF. Foto: dok ICIR Nigeria.
7 Negara dengan Masa Depan Ekonomi Terbaik Hingga 2031 Versi IMF
Riza Aslam Khaeron • 3 June 2026 22:10
Jakarta: Siapa yang akan memimpin ekonomi dunia dalam 5 tahun mendatang? Pertanyaan ini bukan sekadar bahan diskusi akademis, tapi juga peta jalan bagi para investor, pembuat kebijakan, dan pelaku bisnis global dalam mengambil keputusan strategis jangka panjang.
Dana Moneter Internasional (IMF) secara rutin menerbitkan proyeksi ekonomi dunia melalui World Economic Outlook (WEO) Database. Di dalamnya termuat data dan perkiraan indikator ekonomi ratusan negara, termasuk proyeksi produk domestik bruto (PDB) nominal dalam satuan miliar dolar AS.
Dalam artikel ini, "masa depan ekonomi terbaik" dimaknai sebagai negara dengan proyeksi nilai PDB nominal terbesar pada 2031. Indikator yang paling umum digunakan untuk mengukur skala dan kekuatan ekonomi suatu negara di panggung global.
Dalam artikel ini, "masa depan ekonomi terbaik" dimaknai sebagai negara dengan proyeksi nilai PDB nominal terbesar pada 2031. Indikator yang paling umum digunakan untuk mengukur skala dan kekuatan ekonomi suatu negara di panggung global.
Data yang menjadi dasar pembahasan ini bersumber dari IMF DataMapper/WEO Database per 1 April 2026. Perlu diingat, angka proyeksi 2031 bersifat estimasi dan dapat berubah seiring perubahan asumsi ekonomi global mulai dari gejolak geopolitik, perubahan kebijakan moneter, hingga perkembangan teknologi yang tidak terduga.
Berikut tujuh negara dengan proyeksi PDB nominal terbesar pada 2031 versi IMF, beserta gambaran peluang dan tantangan masing-masing.
1. Amerika Serikat — Proyeksi PDB USD 39,03 Triliun
Amerika Serikat tetap tidak tergoyahkan di posisi puncak. PDB nominal AS diproyeksikan naik USD 6,65 triliun atau 20,5% dalam lima tahun dari USD 32,38 triliun pada 2026 menjadi USD 39,03 triliun pada 2031.
Angka tambahan itu hampir setara dengan total pertumbuhan nominal Tiongkok pada periode yang sama, sebuah gambaran betapa besarnya skala ekonomi AS. Kepemimpinan dalam inovasi teknologi, pasar modal yang dalam, dan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia menjadi pilar utama yang terus menopang posisi ini.
Namun, posisi puncak AS bukan tanpa tantangan. IMF mencatat defisit fiskal federal AS masih sebesar 5,9% dari PDB pada tahun fiskal 2025, sementara utang pemerintah umum naik ke 123,9% dari PDB. Ruang fiskal yang makin sempit ini menjadi bayang-bayang di balik dominasi ekonomi AS hingga 2031.
2. Tiongkok — Proyeksi PDB USD 27,50 Triliun
Tiongkok tetap kokoh di posisi kedua. PDB nominalnya diproyeksikan naik dari USD 20,85 triliun pada 2026 menjadi USD 27,50 triliun pada 2031. Dengan tambahan sekitar USD 6,65 triliun atau 31,9%, Tiongkok nyaris sama secara nominal dengan pertumbuhan AS.
Namun cerita di balik angka itu lebih kompleks. IMF menilai model pertumbuhan Tiongkok sedang menghadapi tekanan serius: penyesuaian panjang di sektor properti, beban keuangan pemerintah daerah, dan tekanan deflasi yang melemahkan permintaan domestik. Pertumbuhan Tiongkok diproyeksikan melambat dari 5% pada 2025 menjadi 4,5% pada 2026.
Artinya, kenaikan PDB nominal Tiongkok hingga 2031 lebih mencerminkan momentum dari skala ekonomi yang sudah sangat besar. Bukan lagi fase pertumbuhan supercepat seperti yang menandai dua dekade sebelumnya.
3. India — Proyeksi PDB USD 6,79 Triliun
India adalah bintang paling bersinar dalam daftar ini. PDB nominalnya diproyeksikan melonjak dari USD 4,15 triliun pada 2026 menjadi USD 6,79 triliun pada 2031. Kenaikan USD 2,64 triliun atau 63,5% merupakan yang tertinggi secara persentase di antara tujuh negara teratas.
Lompatan inilah yang menempatkan India sebagai ekonomi terbesar ketiga dunia pada 2031, menggeser Jerman yang saat ini masih berada di atasnya. Bank Dunia menyebut India sebagai ekonomi besar yang memiliki pertumbuhan tercepat dengan laju ekspansi 6,5% pada tahun fiskal 2024/2025.
Dalam India Development Update April 2026, Bank Dunia juga mencatat penguatan investasi swasta di sektor manufaktur serta belanja modal publik yang terus meningkat.
Dalam India Development Update April 2026, Bank Dunia juga mencatat penguatan investasi swasta di sektor manufaktur serta belanja modal publik yang terus meningkat.
| Baca Juga: 25 Negara Paling Dipercaya Investor Tahun 2026, Asia Mendominasi |
4. Jerman — Proyeksi PDB USD 6,35 Triliun
Jerman diproyeksikan turun ke posisi keempat pada 2031, tergeser oleh India. PDB nominalnya naik dari USD 5,45 triliun pada 2026 menjadi USD 6,35 triliun pada 2031, bertambah sekitar USD 0,90 triliun atau 16,5%.
Dibanding India, laju pertumbuhan Jerman jauh lebih lambat. OECD memproyeksikan ekonomi Jerman hanya tumbuh 0,4% pada 2025 dan 1,2% pada 2026. Tantangan struktural Jerman mulai dari infrastruktur yang menua, produktivitas yang stagnan, hingga transisi industri besar-besaran masih membayangi prospek jangka menengahnya.
Satu titik harapan muncul dari reformasi aturan fiskal yang membuka ruang untuk peningkatan belanja pertahanan dan investasi infrastruktur.
Satu titik harapan muncul dari reformasi aturan fiskal yang membuka ruang untuk peningkatan belanja pertahanan dan investasi infrastruktur.
5. Inggris — Proyeksi PDB USD 5,40 Triliun

Ilustrasi IMF. Foto: Flickr
Inggris bertahan di posisi kelima. PDB nominalnya naik dari USD 4,26 triliun pada 2026 menjadi USD 5,40 triliun pada 2031. Kenaikan USD 1,14 triliun atau 26,7% cukup solid di antara negara-negara Eropa dalam daftar ini.
Namun kualitas pertumbuhan Inggris menjadi tanda tanya. OECD menyebut Inggris menghadapi lingkungan ekonomi yang sulit seperti suku bunga tinggi dan pertumbuhan rendah yang membatasi pilihan kebijakan makro. Investasi rendah disebut sebagai salah satu faktor utama yang menahan produktivitas Inggris dalam jangka panjang.
6. Jepang — Proyeksi PDB USD 5,13 Triliun
Jepang menempati posisi keenam. Proyeksi PDB nominal Negeri Matahari Terbit itu naik dari USD 4,38 triliun pada 2026 menjadi USD 5,13 triliun pada 2031, bertambah USD 0,75 triliun atau 17,1%.
Pertumbuhan Jepang yang moderat tidak terlepas dari tantangan demografis yang sangat serius. OECD mencatat penduduk usia kerja Jepang telah turun 16% dari puncaknya pada 1995 — dari 87,3 juta menjadi 73,7 juta pada 2024. Sementara itu, rasio ketergantungan lansia lebih dari dua kali lipat dalam periode yang sama, dari 21% menjadi 49%.
Di tengah tekanan demografis itu, OECD menilai Jepang masih bisa tumbuh secara moderat dengan dukungan permintaan domestik. Dengan catatan, Jepang mampu menjaga stabilitas fiskal dan mendorong produktivitas secara berkelanjutan.
7. Prancis — Proyeksi PDB USD 4,12 Triliun
Prancis menutup daftar ini di urutan ketujuh. PDB nominalnya diproyeksikan naik dari USD 3,60 triliun pada 2026 menjadi USD 4,12 triliun pada 2031. Tambahan USD 0,52 triliun atau 14,5%, kenaikan merupakan yang paling kecil di antara tujuh negara dalam daftar ini.
Angka yang relatif moderat ini mencerminkan posisi Prancis yang lebih ditopang oleh stabilitas skala ekonomi yang sudah besar, bukan akselerasi pertumbuhan agresif. OECD menilai prospek Prancis sangat bergantung pada tiga hal: penyebaran teknologi digital yang lebih luas, pengurangan hambatan regulasi, dan penguatan ekosistem inovasi.
Di sisi fiskal, pengurangan belanja publik untuk menekan rasio utang juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat.
Di sisi fiskal, pengurangan belanja publik untuk menekan rasio utang juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat.
Bagaimana dengan Indonesia?
PDB nominal Indonesia diproyeksikan naik dari USD 1,54 triliun pada 2026 menjadi USD 2,25 triliun pada 2031, bertambah USD 0,71 triliun atau 45,8%. Secara persentase, kenaikan ini lebih tinggi daripada Amerika Serikat, Tiongkok, Jerman, Inggris, Jepang, maupun Prancis dalam daftar utama.
IMF pada tahun 2025 memproyeksikan pertumbuhan Indonesia naik ke 5,1% pada 2026. Kondisi tersebut didorong oleh permintaan domestik yang kuat serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter.
Bank Dunia pun mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,0% dalam sembilan bulan pertama 2025, dan diproyeksikan bertahan di kisaran level tersebut hingga 2026–2027. Penopangnya yaitu investasi dan ekspor neto yang solid.
Bank Dunia pun mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,0% dalam sembilan bulan pertama 2025, dan diproyeksikan bertahan di kisaran level tersebut hingga 2026–2027. Penopangnya yaitu investasi dan ekspor neto yang solid.
Perlu diingatkan kembali bahwa angka proyeksi bukan kepastian. Ia adalah gambaran terbaik berdasarkan informasi yang tersedia hari ini. Dunia, seperti yang selalu terjadi, bisa berubah jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.