Israel Akan Bangun Permukiman Baru di Negev dan Galilea, Tiru Model Tepi Barat

Tepi Barat di Palestina diincar untuk dicaplok Israel. Foto: EFE

Israel Akan Bangun Permukiman Baru di Negev dan Galilea, Tiru Model Tepi Barat

Muhammad Reyhansyah • 18 September 2026 12:05

Tel Aviv: Israel berencana memperluas model pembangunan permukiman di Tepi Barat ke wilayah Negev dan Galilea. 

Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyatakan pemerintah akan membangun puluhan permukiman baru di kedua wilayah tersebut sebagai bagian dari rencana yang ia sebut “Yahudisasi”.

Pernyataan itu disampaikan Smotrich melalui akun X, Kamis, 17 September 2026, sehari setelah ia membanggakan perluasan permukiman dan pembongkaran bangunan milik warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

“Dalam masa jabatan kami berikutnya, kami akan melakukan Yahudisasi di Galilea seperti yang kami lakukan di Yudea dan Samaria (Tepi Barat),” tulis Smotrich, menanggapi laporan Al Jazeera, dikutip dari Anadolu.

Ia kemudian menambahkan, “Al Jazeera, saya punya kabar baik untuk Anda: Apa yang kami lakukan di Yudea dan Samaria akan dilakukan tiga kali lipat di Negev dan Galilea.”

Negev di wilayah selatan dan Galilea di wilayah utara Israel merupakan dua kawasan utama yang dihuni bersama oleh komunitas Arab-Palestina dan Yahudi. Warga Palestina mencakup sekitar 53 persen populasi di Israel bagian utara, sementara sekitar 70–75 persen penduduk Negev merupakan warga Yahudi dan 25–30 persen lainnya adalah warga Arab Badui.

Pada 28 Agustus, Smotrich mengumumkan rencana untuk “melakukan Yahudisasi” di Negev dan Galilea dengan mendatangkan 1 juta warga Yahudi. Rencana itu disebut mengikuti “revolusi permukiman” di Tepi Barat yang diduduki.

Rencana tersebut mencakup pembangunan 20 permukiman baru di Galilea dan 20 lainnya di Negev, disertai pembangunan puluhan lahan pertanian. Pemerintah juga berencana mempermudah perpindahan penduduk ke lokasi-lokasi yang dianggap strategis serta menghapus hambatan perencanaan.

Sehari sebelum pernyataan terbarunya, Smotrich mengatakan pemerintah Israel telah bekerja selama empat tahun untuk memperluas permukiman dan “menghapus ancaman dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Ia juga menyebut otoritas Israel telah membongkar puluhan bangunan Palestina di sekitar Makkedah, Tepi Barat bagian selatan, dan Shira di bagian utara.

Menurut Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Tembok Palestina, terdapat 71 operasi pembongkaran di Tepi Barat selama Agustus yang berdampak pada 155 bangunan. Jumlah itu mencakup 47 rumah berpenghuni, delapan rumah tidak berpenghuni, 33 bangunan mata pencaharian, 61 bangunan pertanian, dan enam bangunan lainnya. Otoritas Israel juga mengeluarkan 44 perintah pembongkaran.

Sejak pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terbentuk pada akhir 2022, Israel meningkatkan perluasan permukiman di Tepi Barat. Sejumlah pejabat Israel secara terbuka menyatakan dukungan terhadap pembangunan puluhan permukiman dan pos terdepan baru.

Israel menduduki Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sejak 1967. Komunitas internasional menganggap permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki tersebut ilegal berdasarkan hukum internasional.

(Fajar Nugraha)