Ajak Pengusaha Berhenti Wait and See, Bos BI: Ekonomi Kita Lebih Baik

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. Foto: Dok istimewa

Ajak Pengusaha Berhenti Wait and See, Bos BI: Ekonomi Kita Lebih Baik

Insi Nantika Jelita • 28 January 2026 15:33

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meninggalkan sikap wait and see atau bereaksi menunggu terhadap dinamika pasar. Ia menilai ekonomi Indonesia akan semakin menguat pada periode 2026–2027 seiring terjaganya stabilitas makroekonomi.

Dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia 2025, Perry menegaskan keyakinan bersama menjadi kunci agar Indonesia tidak tertinggal dalam momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi.

“Berhentilah wait and see. Kalau kita terus wait and see, kita akan tertinggal kereta. Optimisme itulah yang akan membawa ekonomi kita menjadi lebih baik,” ujar dia, Rabu, 28 Januari 2026.

Ia menuturkan, setelah melalui 2025 dengan kinerja ekonomi yang relatif baik, perekonomian Indonesia pada 2026 hingga 2027 berpotensi tumbuh lebih kuat. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi setelah 2025 berada di kisaran 4,7–5,5 persen. Pada tahun ini, pertumbuhan diproyeksikan meningkat ke rentang 4,9–5,7 persen dengan titik tengah 5,3 persen.

"Dan kembali menguat pada 2027 di kisaran 5,1–5,9 persen dengan titik tengah 5,5 persen," kata Gubernur BI,

Inflasi tetap terkendali

Selain pertumbuhan, Perry juga menegaskan komitmen BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga. Inflasi diperkirakan tetap terkendali pada kisaran 2,5 persen lebih kurang satu persen sepanjang 2026–2027.

“Kami akan memastikan stabilitas harga tetap terjaga,” tegas dia.

Perry menekankan pentingnya komitmen seluruh pihak, mulai dari lembaga pemerintah, dunia usaha, perbankan, hingga masyarakat untuk menjalankan peran masing-masing secara optimal. Menurutnya, upaya kolektif dengan motivasi yang kuat diperlukan demi kepentingan nasional dan kesejahteraan rakyat.

"We will do our best untuk merumuskan dan melaksanakan bauran kebijakan Bank Indonesia guna menjaga stabilitas dan juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tekannya.

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Optimalisasi bauran kebijakan

Dalam mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan di berbagai sektor. Mulai dari moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, hingga pengembangan ekonomi kerakyatan.

"Di bidang moneter, BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan terus mendorong penguatannya," imbuh dia.

Dari sisi suku bunga, Perry menyebut BI masih memiliki ruang pelonggaran setelah enam kali penurunan suku bunga sejak September 2024, seiring inflasi yang rendah dan kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bank sentral juga akan melanjutkan ekspansi likuiditas moneter guna memastikan kecukupan likuiditas perbankan dalam menyalurkan kredit.

Perry menambahkan ketahanan eksternal juga menjadi perhatian utama, dengan cadangan devisa yang saat ini mencapai USD156,5 miliar dan akan terus dijaga serta ditingkatkan.

“Kebijakan moneter kami pro-stability dan pro-growth,” kata Perry.

Sementara itu, kebijakan makroprudensial akan tetap longgar pada 2026 hingga 2027 untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan sektor riil. BI akan terus memberikan insentif likuiditas makroprudensial bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas serta bagi bank yang responsif menurunkan suku bunga kredit. Kebijakan ini juga diarahkan untuk mendukung inklusi keuangan, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), ekonomi kerakyatan, serta program prioritas pemerintah.

Di sektor sistem pembayaran, BI akan melanjutkan agenda digitalisasi, termasuk penguatan transaksi lintas negara, konsolidasi industri, pengembangan infrastruktur pembayaran, serta inovasi digital.

Perry juga menegaskan pentingnya penguatan sinergi antara Bank Indonesia dengan pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), perbankan, asosiasi sistem pembayaran, dunia akademik, dan masyarakat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)