Jaga Rupiah, BI Getol Intervensi di Tengah Ketidakpastian Global

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Jaga Rupiah, BI Getol Intervensi di Tengah Ketidakpastian Global

Insi Nantika Jelita • 28 January 2026 12:52

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bank sentral terus melakukan intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Langkah tersebut ditempuh untuk meredam tekanan jangka pendek terhadap rupiah sekaligus memastikan pergerakan nilai tukar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi.

Pada penutupan perdagangan Selasa, 27 Januari, nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,08 persen ke level Rp16.768 per USD. Menurut Perry, pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini bersifat teknikal dan dipicu meningkatnya ketidakpastian global.

"Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar luar negeri melalui Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar Asia, Eropa, dan Amerika," kata Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, dilansir Rabu, 28 Januari 2026.

Di dalam negeri, BI melakukan intervensi di pasar tunai (spot) maupun domestic non-deliverable forward. Selain menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia juga mencermati perkembangan inflasi, khususnya inflasi inti yang tetap terjaga.

Sementara itu, tekanan inflasi yang bersumber dari harga pangan dinilai bersifat jangka pendek dan bergejolak (volatile food). Untuk mengatasinya, BI memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pangan.



(Gubernur BI Perry Warjiyo. Foto: Dok istimewa)

Fundamental rupiah punya prospek menguat

Perry menegaskan, secara fundamental rupiah memiliki prospek menguat. Hal ini didukung oleh inflasi yang rendah, pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan membaik, serta imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik.

"Nilai tukar secara fundamental akan menguat. Apa indikator fundamental? Inflasi yang rendah, serta pertumbuhan ekonomi yang akan membaik," ucap dia.

Dengan bauran kebijakan tersebut, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dinilai tetap mampu menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Dari sisi moneter, BI menempuh kebijakan penurunan suku bunga, ekspansi likuiditas, serta pelonggaran kebijakan makroprudensial untuk mendorong penyaluran kredit.

Selain itu, sinergi fiskal-moneter juga diperkuat melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta pemanfaatan sebagian kepemilikan SBN oleh Bank Indonesia untuk mendukung pendanaan stimulus fiskal.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)