Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo. Foto: Dok istimewa
Gubernur BI: Masih Ada Ruang Penurunan BI Rate di Tahun Ini
Insi Nantika Jelita • 28 January 2026 12:42
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini. Ruang pelonggaran tersebut sejalan dengan kondisi inflasi inti yang tetap rendah serta kebutuhan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Perry menjelaskan, Bank Indonesia sepanjang tahun lalu telah menurunkan BI Rate sebanyak lima kali. Bahkan sejak September 2024, suku bunga acuan telah dipangkas hingga berada di level 4,75 persen.
“Kami juga masih melihat ke depan ada ruang penurunan suku bunga lebih lanjut,” ujar Perry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, dilansir dari Media Indonesia, Rabu, 28 Januari 2026.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: MI/Ramdani)
Inflasi inti masih terjaga
Ia memaparkan, inflasi inti yang mencerminkan kemampuan kapasitas ekonomi dalam memenuhi permintaan masih berada pada level yang rendah. Pada Desember 2025, inflasi inti tercatat sebesar 2,38 persen, berada di bawah titik tengah sasaran inflasi BI sebesar 2,5 persen dengan kisaran kurang lebih satu persen.Kondisi tersebut menunjukkan kapasitas ekonomi nasional masih jauh lebih besar dibandingkan realisasi pertumbuhan saat ini. Bank Indonesia memperkirakan kapasitas produksi nasional dalam dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8 persen hingga 6,2 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah rentang tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan laju inflasi inti.
“Karena inflasi inti kita rendah dan masih perlu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, maka kebijakan suku bunga diarahkan untuk mendukung hal tersebut,” jelas Perry.
Ia menambahkan, sikap kebijakan moneter BI ke depan tetap bersifat akomodatif, tidak hanya melalui penurunan suku bunga, tetapi juga melalui ekspansi likuiditas. Langkah tersebut antara lain ditempuh lewat pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder serta pendalaman pasar uang untuk memperkuat transmisi kebijakan moneter.