Ilustrasi, pengendara tuk tuk di Somalia sedang mengisi bensin. Foto: msfsouthasia.org
Imbas Konflik Timur Tengah, Harga BBM Somalia Meroket hingga 150%
Richard Alkhalik • 7 April 2026 15:04
Mogadishu: Eskalasi geopolitik di Timur Tengah pascaserangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu memicu rambatan krisis energi hingga ke kawasan Afrika. Lonjakan harga minyak global secara langsung menekan ketahanan harga bahan bakar domestik Somalia.
Berdasarkan laporan lembaga kemanusiaan Save the Children, yang dikutip oleh Xinhua, harga bahan bakar di Mogadishu mengalami inflasi sebesar 150 persen sepanjang Maret, melompat dari level USD0,6 menjadi USD1,5 per liter.
Situasi ini melemahkan pendapatan puluhan ribu pengemudi tuk-tuk, yang menjadi alternatif pekerjaan bagi kaum muda untuk menghidupi keluarga mereka.
Berdasarkan laporan lembaga kemanusiaan Save the Children, yang dikutip oleh Xinhua, harga bahan bakar di Mogadishu mengalami inflasi sebesar 150 persen sepanjang Maret, melompat dari level USD0,6 menjadi USD1,5 per liter.
Situasi ini melemahkan pendapatan puluhan ribu pengemudi tuk-tuk, yang menjadi alternatif pekerjaan bagi kaum muda untuk menghidupi keluarga mereka.
| Baca juga: Bahlil Ajak Rapat Swasta Cari Formulasi Harga BBM Nonsubsidi |
Kenaikan harga mencekik daya beli
Menurut salah satu pengemudi tuk-tuk Ahmed Mohamud, tagihan bahan bakarnya setiap hari telah berlipat ganda. Sementara penghasilannya justru turun tajam.
"Dulu saya bisa menghasilkan USD15 hingga USD20 setelah membayar bahan bakar dan biaya sewa, tetapi sekarang saya hanya menghasilkan USD7 hingga USD10. Dulu saya juga menghabiskan sekitar USD8 untuk bahan bakar sepanjang hari, tetapi sekarang jumlahnya berlipat ganda menjadi USD16 hanya untuk bahan bakar saja," ujar Ahmed.
Di lain hal, Abdulkadir Sharif Sharif yang juga pengemudi tuk-tuk mengatakan beberapa rekan pengemudinya telah meninggalkan bisnis ini karena sudah semakin mencari penumpang atau lebih sedikit yang menggunakan jasa mereka.
Efek krisis energi ini kini telah meluas ke luar para pengemudi. Masyarakat yang sebelumnya mengandalkan tuk-tuk sebagai moda mobilitas harian menyatakan tak lagi sanggup menanggung beban eskalasi tarif yang menggerus daya beli mereka.
"Saya sudah berhenti menggunakan tuk-tuk karena harganya terlalu mahal. Perjalanan yang dulunya hanya satu dolar sekarang harganya dua hingga tiga dolar, dan ini karena perang di Timur Tengah," kata Hassan Mohamed, seorang warga Mogadishu dan mantan pengguna tuk-tuk.
.jpg)
(Ilustrasi BBM. Foto: dok MI/Panca Syurkani)
Tuntut intervensi pemerintah
Volatilitas harga tersebut memicu resistensi sosial, tercermin dari aksi unjuk rasa ratusan pengemudi pada 11 Maret 2026 yang memblokir Jalan Maka Al-Mukarama, jalan utama menuju istana presiden, menuntut intervensi pemerintah mengendalikan harga bahan bakar.
Aksi unjuk rasa tersebut berujung pada penahanan Saadia Moalim Ali, seorang sarjana perempuan yang beralih yang beralih menjadi pengemudi tuk-tuk setelah gagal mendapatkan pekerjaan formal. Kasus tersebut memantik atensi nasional, sekaligus menjadi indikator atas tingkat keputusasaan para pekerja transportasi muda Somalia di tengah himpitan ekonomi.
Tidak hanya itu, defisit kemandirian pangan memaksa Somalia sangat bergantung pada komoditas impor. PBB mencatat sekitar 6,5 juta jiwa atau hampir sepertiga dari total populasi kini menghadapi kerawanan pangan akut akibat kekeringan dan tekanan ekonomi.
Meningkatnya biaya transportasi kini berdampak pada harga pangan, yang semakin membatasi akses terhadap barang-barang kebutuhan pokok bagi keluarga yang sudah kesulitan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com