Serangan Israel ke Lebanon picu kerusakan berat. Foto: Anadolu
Tujuh Orang Tewas dalam Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan
Muhammad Reyhansyah • 2 April 2026 17:02
Ramadiyeh: Serangan udara Israel di wilayah selatan Lebanon pada Kamis, 2 April 2026 menewaskan tujuh orang dan melukai tiga lainnya, seiring operasi militer yang kini memasuki bulan kedua.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan empat orang tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan yang menghantam kota Ramadiyeh di distrik Tyre.
Dalam serangan terpisah, kantor berita nasional melaporkan tiga orang tewas setelah sebuah bangunan dua lantai di kota Kfarsir menjadi sasaran.
Dilansir dari Anadolu, pesawat tempur Israel juga melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah kota, termasuk Yater, Harouf, dan Zebdine, yang mengakibatkan kerusakan pada beberapa rumah.
Selain itu, artileri Israel menargetkan berbagai wilayah seperti Siddiqine, Jabal al-Batam, dan Zebqine, serta daerah sekitar Shaqra, Wadi al-Slouqi, Mansouri, Majdal Zoun, Wadi al-Hamra, Hamoul, dan sekitar Qalaat Dabiya. Tidak ada laporan korban jiwa dari serangan artileri tersebut.
Laporan juga menyebutkan pesawat pengintai Israel terbang intensif di atas wilayah Tyre.
Sementara itu, di Lebanon utara, ledakan terdengar di wilayah Batroun dengan penyebab yang belum diketahui, disertai kepulan asap dari area hutan antara kota Asia dan Nahla.
Kementerian Kesehatan Lebanon pada Rabu melaporkan bahwa sejak 2 Maret, serangan Israel telah menewaskan 1.318 orang dan melukai 3.935 lainnya.
Israel terus melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan sejak serangan lintas batas oleh kelompok Hizbullah pada awal Maret.
Ketegangan kawasan semakin meningkat setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke Israel, serta ke Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat, menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan sektor penerbangan.