Tol Laut. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu.
Gerai Maritim Semakin Perkuat Ekosistem Logistik Nasional
Medcom • 13 October 2024 18:12
Jakarta: Program Gerai Maritim yang digagas Kementerian Perdagangan (Kemendag) sejak 2015 berhasil memperkuat konektivitas logistik nasional, khususnya dalam menurunkan harga barang kebutuhan pokok di luar Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan tol laut dan jembatan udara, program ini mampu menekan harga barang lebih baik dibandingkan jalur komersial.
"Gerai Maritim yang memanfaatkan keberadaan tol laut dan jembatan udara mampu menurunkan harga barang-barang lebih baik dibandingkan dengan jalur komersial. Melihat hal tersebut, Gerai Maritim telah menjadi aspek penting dalam memperkuat logistik nasional," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Moga Simatupang , dilansir dari Siaran Pers Kemendag, Minggu, 13 Oktober 2024.
Moga juga mengungkapkan selama sepuluh tahun terakhir, Gerai Maritim berperan penting dalam menurunkan disparitas dan meningkatkan stabilitas harga barang di seluruh wilayah Indonesia.

(Ilustrasi bahan pokok. Foto: dok Kemenkeu)
Ia menjelaskan selama 2015-2024, koefisien variasi harga barang pokok menurun, menunjukkan berkurangnya disparitas harga dan meningkatnya stabilitas. Meski disparitas sempat naik pada 2022-2023 akibat commodity super cycle pascacovid, situasi membaik pada 2024.
Koefisien variasi harga antarwilayah, yang menunjukkan disparitas harga, turun dari 14,02 pada 2015 menjadi 10,15 pada kuartal II-2024, mencerminkan perbaikan. Stabilitas harga juga meningkat, dengan koefisien variasi antarwaktu turun dari 6,3 pada 2015 menjadi 3,23 pada kuartal II-2024.
| Baca juga: Strategi Kemendag Perkuat Perdagangan Nasional dalam 5 Tahun Terakhir |
Harga barang pokok turun secara konsisten
Dari data periode 2022-2024, harga barang pokok, penting, dan lainnya di kota-kota yang dilalui trayek tol laut menunjukkan penurunan konsisten.
Kabupaten Kepulauan Tanimbar mencatat penurunan harga tertinggi untuk barang pokok (23,30 persen), lalu ada juga Halmahera Timur (18,38 persen), dan Fakfak (17,07 persen).
Untuk barang penting, penurunan tertinggi terjadi di Wakatobi, Rote Ndao, dan Kepulauan Anambas. Sedangkan untuk barang lainnya, tertinggi di Kepulauan Tanimbar, Sumbawa, dan Fakfak.
Penurunan harga tertinggi untuk barang pokok adalah cabai rawit (21,43 persen), bawang merah (18,21 persen), dan ikan segar bandeng (15,37 persen). Untuk barang penting, tertinggi pupuk urea (18,97 persen), benih kedelai (15,62 persen), dan besi baja konstruksi 4 mm (13,14 persen). Untuk barang lainnya, sayuran (30,74 persen), popok bayi dan dewasa (23,05 persen), dan garam (20,84 persen).
Moga menyatakan jembatan udara tumbuh dari 13 rute pada 2017 menjadi 45 rute pada 2024, dengan harga barang pokok dan penting menunjukkan penurunan signifikan. Penurunan tertinggi harga barang pokok tercatat di Pegunungan Bintang (42,17 persen), diikuti Intan Jaya dan Malinau.