Ilustrasi Pexels
Imunisasi Campak Menurun, BRIN: Ketersediaan Vaksin Bukan Persoalan
Muhamad Marup • 5 May 2026 16:24
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan adanya tren penurunan imunisasi campak. Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, BRIN, Maria Holly Herawati, mengatakan, bahwa persoalan utama bukan pada ketersediaan vaksin.
"Belum optimalnya sistem surveilans dan imunisasi. Cakupan imunisasi campak-rubela juga mengalami penurunan," ujar Maria, dalam keterangan resminya, Selasa, 5 Mei 2026.
Ia menjelaskan, dosis pertama (MR1) turun dari 92% menjadi 82% dan dosis kedua (MR2) dari 82,3% menjadi 77,6%. Persentase tersebut jauh dari target ideal 95% untuk mencapai herd immunity.
"Sementara pada awal 2026, terdapat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan empat kematian," jelasnya.
Maria juga menyoroti berbagai tantangan di lapangan, mulai dari keterlambatan pelaporan, underreporting, sistem informasi yang belum terintegrasi, hingga fenomena vaccine hesitancy dan kendala rantai dingin vaksin.
Ia mendorong penguatan agenda riset yang mencakup pengembangan sistem informasi kesehatan real-time, early warning system, evaluasi program imunisasi kejar, pendekatan sosial budaya, serta analisis ekonomi kesehatan untuk menjamin keberlanjutan program.

Ilustrasi Pexels
"Masalahnya bukan kekurangan data, tetapi belum adanya sistem yang mampu mendeteksi dini dan merespons secara cepat," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Organisasi Riset Kesehatan, BRIN, Indi Dharmayanti, dalam sambutannya menegaskan bahwa dunia sebenarnya telah memiliki instrumen ampuh untuk mengendalikan campak, yakni vaksin yang aman dan efektif. Namun, tantangan saat ini terletak pada memastikan cakupan imunisasi yang merata dan berkelanjutan di seluruh populasi.
"Munculnya kembali KLB campak menunjukkan adanya celah dalam sistem, baik dari sisi cakupan imunisasi, kualitas surveilans, maupun pemanfaatan data ilmiah. Di sinilah riset memainkan peran krusial," ujarnya.