Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.
Kemenperin-Kemenkeu Bahas Insentif Demi Pecut Sektor Manufaktur
Richard Alkhalik • 5 May 2026 12:13
Jakarta: Mencatat rekor pertumbuhan tertinggi dalam 14 tahun, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) membahas formulasi insentif untuk mendongkrak porsi ekspor manufaktur tanpa mengorbankan stabilitas pasar dalam negeri.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan kontribusi manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus mengalami tren peningkatan.
Ia menambahkan pertumbuhan sektor industri pengolahan pada tahun lalu berhasil melampaui pertumbuhan ekonomi nasional, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi selama 14 tahun terakhir.
Menyikapi momentum positif tersebut, Kemenperin bersama Kemenkeu terus berupaya membedah dan mencari jalan keluar atas berbagai kendala operasional yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.
"Kami memberikan apresiasi kepada Menteri Keuangan yang telah membentuk tim bottlenecking untuk mengkanalisasi dan menyelesaikan masalah para pelaku usaha," ujar Agus ditemui di Kantor Pusat Kemenkeu, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
| Baca juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,61% di Triwulan I-2026 |

(Ilustrasi, aktivitas pekerja di sektor industri manufaktur. Foto: dok Istimewa)
Pecut sektor manufaktur demi topang perekonomian
Pertemuan lintas kementerian tersebut secara spesifik membahas rumusan kebijakan strategis, baik berupa stimulus maupun insentif, agar laju pertumbuhan sektor manufaktur dapat terus menopang perekonomian secara optimal dan bergerak lebih cepat.
Agus menyampaikan, rata-rata sebanyak 75 persen hingga 80 persen dari total ekspor nasional saat ini telah didominasi oleh produk-produk manufaktur.
Kendati demikian, performa ekspor dari total kapasitas produksi manufaktur Indonesia baru menembus kisaran 20 persen, menyisakan 80 persen output yang terserap oleh pasar dalam negeri. Kondisi ini menempatkan struktur industri nasional pada posisi yang berbeda dibandingkan dengan negara-negara kompetitor di kawasan seperti Vietnam, Thailand, maupun Malaysia.
Ia menambahkan kini tengah memformulasikan langkah taktis untuk merubah rasio tersebut demi mendongkrak porsi ekspor. Meskipun begitu, Agus menyampaikan peningkatan ekspor tersebut akan dieksekusi secara terukur.
Peningkatan volume ekspor dirancang agar tidak memangkas porsi distribusi domestik, sekaligus tetap mengutamakan perlindungan terhadap pangsa pasar dalam negeri.