Gaza Sambut Ramadan Pertama Pasca-Perang dengan Harapan Rapuh

Bocah Palestina masuki Ramadan pertama. Foto: Anadolu

Gaza Sambut Ramadan Pertama Pasca-Perang dengan Harapan Rapuh

Fajar Nugraha • 18 February 2026 11:19

Khan Younis: Di atas puing-puing bangunan enam lantai yang hancur di selatan Gaza, lentera berwarna-warni kini bergantungan di antara retakan beton.

Di lingkungan Abu Sufyan, Khan Younis, anak-anak memanjat dinding yang hancur untuk memasang kabel hias di antara tenda dan reruntuhan bangunan.

Momen ini menandai Ramadan pertama sejak gencatan senjata mengakhiri perang dua tahun yang meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Gaza. Bagi warga setempat, memasang dekorasi bukan sekadar ritual musiman, melainkan upaya untuk merebut kembali kehidupan yang sempat hilang.

Setelah berbulan-bulan didominasi oleh abu dan debu, spanduk bertuliskan Ramadan Mubarak dan Selamat Datang Bulan Suci kini menghiasi gang-gang yang masih menyisakan bekas pengeboman. Lampu merah dan kuning menembus cakrawala kelabu dari bangunan-bangunan yang retak. Dekorasi tersebut ditenagai oleh generator kecil yang hanya menyala beberapa jam setiap malam.

"Tradisi ini tidak pernah berhenti, bahkan ketika segala sesuatunya runtuh," ujar Yasser Al-Sattari, warga lokal yang kehilangan rumah, istri, dan saudara perempuannya dalam perang tersebut, seperti dikutip Anadolu, Senin, 18 Februari 2026.

Ia menegaskan bahwa kegembiraan Ramadan bagi anak-anak tidak boleh dirampas oleh perang.

Dua Ramadan sebelumnya dilewati warga Gaza di bawah pengeboman dan kondisi kelaparan. Keluarga-keluarga kesulitan mendapatkan bahan makanan pokok untuk berbuka puasa dan sahur akibat pengungsian massal di seluruh wilayah enklave.

Meskipun lingkungan mereka masih rata dengan tanah dan ribuan orang masih hilang di bawah reruntuhan, Ramadan kali ini membawa makna yang berbeda. "Kami berhasil bertahan hidup, dan itulah alasan kami merayakannya," tegas Sattari.

Hingga saat ini, pasokan listrik di seluruh Gaza masih sangat terbatas. Israel memutus pasokan listrik sejak awal perang dan terus membatasi masuknya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan satu-satunya pembangkit listrik di Gaza, meskipun gencatan senjata telah berlaku.

Lebih dari 5.000 kilometer jaringan listrik hancur dan 2.000 transformator rusak selama konflik. Total kerugian di sektor ini diperkirakan mencapai 1,4 miliar dolar AS.

Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat telah berlaku di Gaza sejak 10 Oktober 2023, mengakhiri perang yang menewaskan lebih dari 72.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 lainnya.

Namun, sejak perjanjian tersebut berlaku, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat pasukan Israel telah melakukan ratusan pelanggaran melalui penembakan dan tembakan artileri, yang menewaskan sedikitnya 603 warga Palestina dan melukai 1.618 lainnya. Meski situasi masih tidak menentu, warga di Abu Sufyan tetap menyalakan lentera sebagai simbol ketahanan.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)