Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
IHSG Naik 1,41% ke 7.101, Investor Masih Wait and See
Ade Hapsari Lestarini • 29 April 2026 16:35
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini makin berjaya di zona hijau. Penguatan IHSG disokong faktor luar negeri.
Berdasarkan data RTI, Rabu, 29 April 2026, IHSG sore naik 28,833 poin atau setara 1,41 persen ke posisi 7.101. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 7.096. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 7.063 dan tertinggi di posisi 7.126.
Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 42,969 miliar senilai Rp15,984 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12,663 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.454.197 kali.
Sore ini, tercatat sebanyak 379 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 282 saham melemah, dan 154 saham lainnya stagnan.

Ilustrasi. Foto: dok MI/Usman Iskandar.
Investor masih wait and see
Kiwoom Research sebelumnya memperkirakan masih terdapat potensi konsolidasi lanjutan sedikit lagi menutup gap 7.022 hingga 7.000-6.917.
"Sikap wait and see lebih banyak disarankan sambil menunggu market stabilizing," kata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya, dilansir Antara, Rabu, 29 April 2026.
Sementara dari mancanegara, pelaku pasar menantikan hasil pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada 28-29 April 2026 pekan ini, yang diperkirakan akan menahan suku bunga acuannya.
Selain itu, pelaku pasar juga menantikan arah kebijakan moneter Europan Central Bank (ECB) dan Bank of England (BoE) selama pekan ini. Sementara itu, Bank of Japan (BoJ) telah mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75 persen.
"Pasar melihat kecenderungan hawkish bias, meski sebagian besar bank sentral kemungkinan masih menahan suku bunga sambil menunggu kejelasan dampak perang terhadap inflasi," ujar Liza.
Perkembangan konflik antara AS dengan Iran, laporan sebelumnya menunjukkan Iran telah mengajukan proposal baru untuk mengakhiri konflik dua bulan dengan AS dan Israel, sekaligus membuka kembali Selat Hormuz, yang sempat dipertimbangkan sebagai jalur de-eskalasi.