Pendukung Hizbullah di Lebanon. Foto: EFE-EPA
Balas Pelanggaran Gencatan Senjata, Hizbullah Gempur 43 Target Militer Israel
Dimas Chairullah • 13 April 2026 17:49
Beirut: Hizbullah mengumumkan telah melancarkan 43 operasi militer terhadap posisi pasukan Israel pada Minggu 12 April 2026.
Serangan ini merupakan respons tegas atas pelanggaran gencatan senjata dan agresi tanpa henti yang dilakukan Israel terhadap desa-desa di Lebanon.
Melansir laporan Press TV, operasi skala besar tersebut menargetkan konsentrasi pasukan Israel di sepanjang perbatasan hingga masuk jauh ke dalam wilayah pendudukan Palestina. Rentetan serangan mematikan ini mencakup penggunaan pesawat nirawak (drone), roket, dan rudal berpemandu.
Berikut adalah sejumlah target operasi paling signifikan yang dilancarkan Hizbullah, seperti dikutip dari Press TV, Senin, 13 April 2026 :
- Serangan drone presisi ke stasiun komunikasi di barak Al-Alika, Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki Israel.
- Serangan drone ke area tank Merkava di dekat rumah sakit Mays al-Jabal.
- Pengerahan drone peledak ke kerumunan pasukan Israel di Al-Bayyada, Yaroun, dan Kfar Yuval.
- Rentetan roket ke barak Kiryat Shmona, permukiman Nahariya, dan markas Divisi 146 di Gaaton.
- Penembakan terhadap posisi baru Israel di Lebanon selatan, termasuk situs Balat dan dataran tinggi Al-Asi di dekat Mays al-Jabal.
Serangan yang berlangsung dari Minggu pagi hingga larut malam ini juga membombardir kendaraan militer di kota-kota perbatasan Khiam, Bint Jbeil, Taybeh, dan Aita al-Shaab.
Dalam pernyataan resminya, Hizbullah menegaskan bahwa rentetan operasi ini adalah sebuah "kewajiban" untuk membela Lebanon dan rakyatnya, mengingat Israel berulang kali melanggar perjanjian gencatan senjata yang seharusnya mencakup wilayah Lebanon.
"Tanggapan ini akan berlanjut hingga agresi Israel-Amerika terhadap negara dan rakyat kami berhenti," tegas pernyataan Hizbullah.
"Perlawanan Islam berkomitmen untuk membela tanah dan rakyatnya. Ini adalah kewajiban minimum untuk menghentikan musuh memajukan tujuan berbahaya mereka," lanjut pernyataan tersebut.
Tragedi Kemanusiaan di Tengah Konflik
Pengumuman serangan balasan dari Hizbullah ini datang di saat warga Lebanon tengah dirundung duka akibat serangan Israel yang terus berlanjut.Di Desa Srifa, wilayah selatan Lebanon, sebuah serangan udara Israel menewaskan balita berusia dua tahun bernama Taleen Saeed, beserta empat kerabat lainnya. Ironisnya, mereka tewas saat tengah melangsungkan prosesi pemakaman ayah Taleen.
Keluarga tersebut diketahui baru saja kembali ke desa pada hari Rabu, hari pertama pemberlakuan gencatan senjata AS-Iran dengan harapan kesepakatan damai itu juga berlaku untuk Lebanon. Namun, Israel nyatanya terus melancarkan serangan yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 350 orang di seluruh Lebanon dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data otoritas kesehatan setempat, lebih dari 160 anak tercatat tewas di Lebanon sejak eskalasi konflik ini meletus.
Merespons krisis yang makin memburuk, Paus Leo XIV pada hari Minggu kembali menyerukan dilaksanakannya gencatan senjata secara menyeluruh. Sang Paus menegaskan bahwa para pemimpin dunia memiliki "kewajiban moral yang mutlak untuk melindungi penduduk sipil."