Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan di Pasar Pal Meriam, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (8/4/2026). ANTARA/Siti Nurhaliza
Pengolahan Sampah Mandiri di Pasar Kramat Jati Beroperasi 2027
Siti Yona Hukmana • 8 April 2026 14:14
Jakarta: Perumda Pasar Jaya menargetkan program pengolahan sampah secara mandiri di kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mulai beroperasi tahap awal pada Maret 2027. Langkah ini sebagai percepatan penanganan sampah di Pasar Induk Kramat Jati.
"Insya Allah kita di bulan Maret 2027 nanti tahap awal sudah bisa beroperasi,” kata Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan di Pasar Palmeriam, Matraman, Jakarta Timur, dilansir Antara, Rabu, 8 April 2026
Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pengangkutan sampah ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, serta menjadi solusi jangka panjang atas persoalan lingkungan di pusat distribusi pangan terbesar di ibu kota tersebut. Selain itu, Agus menjelaskan, rencana pengelolaan sampah mandiri tersebut saat ini memasuki tahap perencanaan teknis yang matang.
Agus menjelaskan, dalam merealisasikan proyek ini, Pasar Jaya menggandeng Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI-ITB) sebagai mitra teknis. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memastikan teknologi yang digunakan sesuai kebutuhan dan mampu mengolah sampah secara efektif di lingkungan pasar.
Dengan adanya fasilitas ini, seluruh sampah yang dihasilkan dari aktivitas pasar dapat ditangani langsung di lokasi tanpa harus diangkut ke luar wilayah. Dari sisi kapasitas, Agus menyebutkan volume sampah harian di Pasar Induk Kramat Jati saat ini mencapai kurang lebih 200 ton per hari.
Dengan kapasitas tersebut, fasilitas pengolahan mandiri dirancang untuk mampu mengelola seluruh sampah yang dihasilkan setiap harinya. "Kapasitas sampah di pasar induk kurang lebih 200 ton. Jadi bisa diselesaikan di tempat, tidak perlu dikirim ke Bantargebang," ungkap Agus.
.jpg)
Pedagang memilah jagung dengan latar belakang sampah yang menumpuk di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Penumpukan disebabkan karena pembatasan kuota pengiriman sampah ke TPST Bantar Gebang pascainsiden longsor di lokasi tersebut pada 8 Maret 2026 lalu. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/nym.
Sebelumnya, Komisi B DPRD DKI Jakarta bersama jajaran eksekutif menggelar rapat kerja membahas pengelolaan sampah pasar di ibu kota. Pembahasan ini menjadi penting karena total sampah dari seluruh pasar di Jakarta mencapai sekitar 500 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ton berasal dari Pasar Induk Kramat Jati.
"Kami ingin memastikan konsep dan sistem pengelolaan sampah ke depan berjalan optimal. Apalagi sebelumnya ada teguran dari Dinas Lingkungan Hidup terkait persoalan sampah dan pelaksanaan pergub. Ini harus menjadi bahan evaluasi dan perbaikan," kata Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Nova Harivan Paloh di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.
Nova menambahkan, Komisi B mendukung rencana pengelolaan sampah mandiri oleh Pasar Jaya. Ia menilai, langkah tersebut dapat membantu mengurangi beban TPST Bantargebang yang saat ini menerima sekitar 7.800 ton sampah per hari. Dengan volume sebesar itu, antrean truk sampah menuju Bantargebang kerap mengular dan menimbulkan persoalan tersendiri.