Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Keberadaan SPPG Lokal Beri Multiplier Effect ke Ekonomi Rakyat
Eko Nordiansyah • 30 March 2026 17:25
Jakarta: Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN) menyatakan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan sekadar upaya pemenuhan kalori nasional. Lebih dari itu, program ini merupakan sebuah transformasi besar dalam kedaulatan ekonomi rakyat.
Sekjen DPP ARUN, Bungas T Fernando Duling menyatakan di tengah dinamika pembangunan yang masif, model kemandirian yayasan dan investor lokal yang dilakukan SPPG menjadi garda terdepan dalam membangun ketahanan gizi dan pembangunan multiplier effect ekonomi.
"Namun, penting untuk meletakkan perspektif kita secara jernih, bahwa insentif harian sebesar Rp6 juta bukanlah sekadar angka keuntungan bagi mereka. Ia adalah amanah arus kas operasional yang baru bertransformasi menjadi profit setelah melewati ambang batas titik impas atau Break Even Point (BEP) yang terukur secara ketat dalam periode kontrak 24 bulan," kata Fernando dalam keterangannya, Senin, 30 Maret 2026.
Ia menilai keberanian para investor mandiri ini adalah sebuah "Revolusi Nutrisi". Ia mencontohkan, dengan nilai investasi di angka Rp1,3 miliar-Rp2 miliar, para mitra ini telah mengucurkan modal sosial-ekonomi ke tingkat desa tanpa membebani APBN untuk konstruksi awal.
"Di sinilah ARUN hadir memberikan dukungan moral penuh dan pendampingan strategis. Karena kami memahami bahwa menjadi investor SPPG bukan hanya soal hitung-hitungan neraca, melainkan soal daya tahan mengelola operasional hingga mencapai titik impas (BIP) di bulan ke-14 hingga ke-20," ungkapnya.

(Ilustrasi. Foto: Dok BGN)
Ikut menyerap lapangan kerja
Ia menegaskan, ARUN berdiri di samping para mitra untuk memastikan bahwa tantangan birokrasi dan hambatan teknis tidak mematahkan semangat pengabdian mereka. Menurutnya, investasi ini adalah oase ekonomi bagi akar rumput sebab investasi mandiri para mitra telah menjadi mesin penyerap tenaga kerja yang luar biasa."Penyerapan tenaga kerja formal dan informal ini memberikan dampak instan pada daya beli masyarakat desa. Warung-warung lingkungan dan pedagang kaki lima di sekitar lokasi pembangunan merasakan langsung tetesan ekonomi dari aktivitas ini. Inilah manifestasi nyata dari ekonomi kerakyatan, uang negara belum keluar, namun ekonomi rakyat sudah berputar kencang melalui inisiatif mandiri," katanya.
Memasuki fase operasional, tantangan sesungguhnya adalah menjaga ekosistem lokal agar tetap berdaya. Ia menyatakan ARUN secara aktif mendampingi yayasan agar mampu merangkul petani, peternak, dan UMKM sebagai pemasok utama bahan baku.
"Kami menekankan SPPG harus menjadi pembeli siaga yang memangkas rantai distribusi panjang, sehingga keuntungan tidak lagi lari ke tengkulak, melainkan menetap di kantong para produsen pangan lokal. Di dapur-dapur SPPG, para relawan dan tenaga kerja lokal bukan sekadar pelaksana, mereka adalah jantung dari program ini yang mendapatkan insentif layak sekaligus peningkatan martabat sosial," tegas Fernando.
Secara objektif, investasi di rentang Rp1,3 miliar-Rp1,4 miliar adalah titik keseimbangan ideal untuk menjamin kualitas layanan sekaligus keberlanjutan usaha. Ia pun menegaskan, bahwa ARUN memperingatkan agar efisiensi tidak dilakukan secara ekstrem di bawah angka Rp1 miliar, karena berisiko menurunkan standar layanan dan mengancam keberlangsungan kontrak.
"Kami hadir untuk mengawal agar para mitra tetap berada pada koridor kualitas yang ditetapkan Badan Gizi Nasional. Dukungan moral ARUN adalah memastikan bahwa investor tidak berjalan sendirian dalam menghadapi risiko, terutama bagi mereka yang bertaruh di wilayah sulit dengan biaya logistik tinggi," ujarnya.
Ia menegaskan, SPPG Mandiri adalah monumen kemitraan yang sehat antara negara, swasta, dan rakyat. Keuntungan stabil yang baru dinikmati investor di penghujung masa kontrak adalah imbal hasil yang sangat pantas atas keberanian mereka memikul risiko di awal.
"ARUN akan terus mengawal proses ini, memastikan setiap rupiah investasi tetap menjadi katalisator bagi kebangkitan ekonomi Nusantara. Inilah revolusi kita bersama, memastikan perut rakyat kenyang, nutrisi anak bangsa terpenuhi, dan dompet masyarakat akar rumput kembali berisi," kata dia.