Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Pariwisata BSSN Edit Prima. Foto: Dok. Istimewa.
Digitalisasi Sektor Keuangan Penting Mengurangi Anomali Serangan Siber
Kautsar Widya Prabowo • 18 August 2026 15:23
Jakarta: Percepatan digitalisasi sektor keuangan membuka peluang pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan risiko serangan siber. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat terdapat 3,64 miliar anomali serangan siber sepanjang Januari-Juli 2025.
Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Pariwisata BSSN Edit Prima mengatakan tantangan semakin berat karena kapasitas pemantauan masih terbatas. Saat ini, BSSN baru mampu memantau kurang dari 10 persen aktivitas digital.
“Ibarat CCTV dalam sebuah kompleks perumahan, ia hanya bisa memantau kurang dari 10 persen total jalan yang ada,” ujar Edit dalam keterangan tertulis, Selasa, 18 Agustus 2026.
Menurut Edit, keterbatasan tersebut menjadi pekerjaan rumah besar bagi negara dalam memperkuat kemampuan mendeteksi dan merespons ancaman siber yang semakin masif. Terutama di tengah meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital.
“Lebih dari 90 persen aktivitas anomali di depan rumah atau di jalanan tidak bisa kita pantau. Ini menjadi PR besar bagi kapasitas negara dalam membantu seluruh stakeholders mendeteksi ancaman yang semakin masif,” jelas Edit.
Sementara itu, Advisor Kelompok Spesialis Layanan Digital dan Keamanan Siber OJK Rela Ginting menegaskan keamanan siber berkaitan langsung dengan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga jasa keuangan. Hingga Juli 2026, tercatat 22,69 juta akun konsumen keuangan digital dan 18,80 juta pengguna layanan agregasi.
“Kepercayaan dibangun melalui bukti bahwa lembaga telah bersiap, mampu mendeteksi cepat, melapor dini, berkomunikasi jujur, dan bertanggung jawab terhadap dampak,” jelas Rela.

Ilustrasi. Foto: Freepik.com.
Hal tersebut disampaikan dalam Indonesia Cyber Protection 2026 bertajuk “Securing Indonesia’s Financial Digital Future” yang diselenggarakan Warta Ekonomi.
CEO Warta Ekonomi Muhamad Ihsan mengatakan pertumbuhan digital harus diikuti dengan kesiapan menjaga keamanan data dan sistem. Menurutnya, ancaman siber tidak hanya semakin besar, tetapi semakin kompleks seiring meningkatnya pemanfaatan artificial intelligence atau AI.
“Kita membutuhkan teknologi keamanan yang lebih adaptif, talenta digital yang semakin kuat, tata kelola data yang semakin matang, serta kolaborasi antara pemerintah, industri, penyedia teknologi, dan masyarakat,” ujar Muhamad Ihsan.