Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: dok Kemenko Perekonomian.
Pemerintah Optimistis AI Dongkrak Ekonomi Digital Indonesia
Husen Miftahudin • 18 July 2026 14:38
Shanghai: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi menjadi pengubah permainan (game changer) bagi perekonomian Indonesia. Menurutnya, perkembangan AI membuka peluang bagi Indonesia untuk tumbuh bersama negara lain karena belum ada satu negara yang benar-benar mendominasi teknologi tersebut.
"AI salah satu game changer ke depan dan tidak ada satu pun negara yang paling depan di bidang AI sehingga kita pun bisa maju bersama-sama dengan negara lain dengan memanfaatkan AI," kata Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Shanghai, dikutip dari Antara, Sabtu, 18 Juli 2026.
Airlangga menyebut ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD135 miliar pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi USD366 miliar pada 2030. Menurut dia, proyeksi tersebut sejalan dengan inisiatif Indonesia dalam kerja sama ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA) yang ditargetkan dapat ditandatangani pada masa keketuaan Filipina tahun ini.
"Hal ini sejalan dengan apa yang diusulkan Indonesia dalam kerangka kerja sama ASEAN Digital Economic Framework Agreement yang diharapkan dapat ditandatangani oleh keketuaan Filipina tahun ini sehingga besaran ekonomi digital akan meningkat dari USD1 triliun di ASEAN menjadi USD2 triliun dan potensi Indonesia juga meningkat dari USD400 miliar menjadi USD600 miliar," ujar Airlangga.
Baca Juga :
Strategi Pemerintah Jaga Inflasi Terkendali
AI dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi
Airlangga menjelaskan pengembangan ekonomi digital dan AI bukan hal baru bagi Indonesia. Pemerintah telah meluncurkan program Making Indonesia 4.0 pada 2018 yang menjadikan kecerdasan buatan sebagai salah satu komponen utama transformasi industri.
Ia menilai implementasi AI secara optimal dapat memberikan kontribusi ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan skenario bisnis seperti biasa.
"AI ini punya potensi menyumbang pendapatan bagi Indonesia. Kalau hanya business as usual, pada 2030 potensinya sampai USD400 miliar. Namun, kalau diimplementasikan dengan digital economy framework, akan meningkat menjadi USD2 triliun," kata Airlangga.
Airlangga juga menyoroti perluasan penggunaan QRIS yang kini dapat dimanfaatkan untuk transaksi lintas negara, termasuk di sejumlah negara ASEAN, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

(Ilustrasi AI. Foto: dok Metrotvnews.com)
Siapkan Peta Jalan AI Nasional
Sementara itu, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Angga Raka Prabowo menegaskan Indonesia tidak ingin hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi juga berperan dalam penyusunan tata kelola AI di tingkat global.
"Kita tidak ingin hanya sebagai penonton dalam perkembangan AI. Kita berperan aktif dalam penyusunan tata kelola AI global, termasuk mengedepankan etika, mendorong potensi ekonomi, edukasi, dan pelayanan kesehatan di dalam negeri," kata Angga.
Ia mengungkapkan pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan Artificial Intelligence 2026-2029 yang dalam waktu dekat akan disahkan Presiden. Selain itu, pemerintah juga sedang menyelesaikan pembahasan rancangan Peraturan Presiden mengenai etika AI.
Peta Jalan AI Nasional 2026-2029 disusun Kementerian Komunikasi dan Digital bersama sejumlah kementerian dan lembaga. Dokumen tersebut berfokus pada penguatan tata kelola, pembangunan infrastruktur digital, pengembangan talenta, serta riset guna mendukung kedaulatan digital dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Setelah Peraturan Presiden diterbitkan, setiap kementerian dan lembaga akan menyusun aturan sektoral yang lebih rinci, sementara Komdigi bertindak sebagai koordinator implementasi lintas sektor.
Pemerintah menetapkan lima sektor prioritas dalam pengembangan AI, yakni kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, serta mobilitas dan kota cerdas (smart city).