Menhut Raja Juli saat menerima jajaran OceanX di Kantor Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Foto: Dok. Istimewa.
Kemenhut Gandeng OceanX Perkuat Tata Kelola Taman Nasional Laut
Fachri Audhia Hafiez • 22 July 2026 17:47
Jakarta: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memperkuat pengelolaan dan perlindungan tujuh Taman Nasional (TN) ekosistem laut melalui kolaborasi riset bersama lembaga riset global, OceanX. Hal ini guna menjalankan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait tata kelola kawasan konservasi berbasis data ilmiah.
“Kami Kehutanan, tapi wilayah kami juga ada di laut, contohnya TN Komodo, TN Wakatobi, TN Kepulauan Seribu, TN Cendrawasih, TN Togean, total ada 7 Taman Nasional. Kami terbuka untuk kolaborasi,” ujar Raja Juli saat menerima jajaran OceanX di Kantor Kementerian Kehutanan (Kemenhut), Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026.
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh CEO and Chief Science Officer OceanX Vincent Pieribone, Director of Science Partnerships Eric Chocat, Chief of Staff Davide Bergo, dan Head of Missions Roger Mayer.
Raja Juli menjelaskan selain monitoring dan evaluasi, Kemenhut mengelola tujuh TN laut, yakni Wakatobi, Kepulauan Seribu, Takabonerate, Teluk Cenderawasih, Togean, Karimunjawa, dan Bunaken, serta TN Komodo yang memiliki kawasan darat dan laut. Kerja sama ini diharapkan memperkaya data pembanding (baseline data), pemetaan bawah laut, hingga inventarisasi keanekaragaman hayati.
“Pengelolaan kawasan konservasi laut harus didasarkan pada data dan riset ilmiah yang kuat. Kementerian Kehutanan berkomitmen penuh dalam meningkatkan pengelolaan taman nasional laut di Indonesia,” kata Raja Juli.
.jpeg)
Menhut Raja Juli saat menerima jajaran OceanX di Kantor Kementerian Kehutanan (Kemenhut). Foto: Dok. Istimewa.
Sementara itu, CEO and Chief Science Officer OceanX Vincent Pieribone mengungkapkan pihaknya fokus pada penelitian biodiversitas laut di Sulawesi Utara usai menyelesaikan dua misi ekspedisi di Indonesia. Seluruh data yang dihimpun nantinya sepenuhnya menjadi milik Kemenhut sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Tujuan ekspedisi adalah untuk collecting data berupa data spasial dan biodiversitas. Nantinya data ini dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Sehingga kebijakan yang dihasilkan berbasis sains,” ujar Vincent.