Pemerintah Iran Sebut 3.117 Orang Tewas dalam Gelombang Demonstrasi

Kerangka bus yang terbakar dalam demonstrasi Iran. (West Asia News Agency/WANA)

Pemerintah Iran Sebut 3.117 Orang Tewas dalam Gelombang Demonstrasi

Riza Aslam Khaeron • 22 January 2026 09:02

Teheran: Media pemerintah Iran untuk kali pertama merilis angka resmi korban jiwa dalam gelombang demonstrasi terjadi sejak akhir Desember 2025. Dalam pernyataan melalui Press TV pada Rabu, 21 Januari 2026 waktu setempat, 3.117 orang dilaporkan tewas selama penindakan terhadap aksi protes tersebut.

Melansir Al-Jazeera, data tersebut berasal dari Yayasan Martir Iran (Martyrs Foundation), yang menyebutkan dari total korban jiwa, 2.427 orang merupakan warga sipil dan personel keamanan.

Pernyataan ini muncul di tengah kritik internasional terhadap kerasnya respons pemerintah Iran dalam menghadapi unjuk rasa yang dipicu oleh krisis ekonomi dan memburuknya nilai tukar mata uang nasional.

Jumlah ini berbeda dari laporan yang disampaikan oleh Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat. HRANA menyebutkan bahwa total 4.519 orang tewas selama gelombang protes, termasuk 4.251 demonstran, 197 personel keamanan, 35 anak di bawah umur, serta 38 warga sipil yang tidak terlibat langsung dalam aksi maupun sebagai aparat keamanan. Selain itu, HRANA menyatakan masih ada 9.049 kematian tambahan yang tengah diselidiki.

Protes ini bermula ketika para pedagang memprotes merosotnya nilai mata uang rial dan melonjaknya harga kebutuhan pokok. Aksi yang awalnya bersifat lokal ini berkembang menjadi gerakan nasional yang menyerukan perubahan pemerintahan dan menentang kepemimpinan spiritual Iran.

Pemerintah Iran menyebut demonstrasi ini sebagai aksi “teroris” dan menuding keterlibatan Amerika Serikat dalam mendorong kekacauan. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengkritik tindakan represif Iran dan bahkan mengancam akan bertindak jika kekerasan terhadap pengunjuk rasa terus berlanjut.
 

Baca Juga:
Pejabat Iran Sebut Jumlah Korban Jiwa Demonstrasi Tembus 5.000 Orang

Menurut laporan Al-Jazeera, beberapa negara di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman telah melobi pemerintahan Trump agar tidak melancarkan serangan militer ke Iran.

Beberapa kelompok hak asasi manusia menyebut bahwa aparat keamanan Iran menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.

Amnesty International melaporkan bahwa pasukan keamanan Iran menembaki massa dari jalanan maupun atap bangunan dengan senapan berisi peluru logam, yang diarahkan langsung ke kepala dan dada warga yang tidak bersenjata.

Gambar-gambar dari tur media asing menunjukkan dampak kerusuhan yang meluas.

Di Teheran, gedung-gedung pemerintahan dan masjid mengalami kerusakan parah, termasuk Masjid Beheshti yang rusak akibat bentrokan. Perempuan-perempuan terlihat berjalan melewati bangunan yang terbakar, mencerminkan skala kehancuran yang terjadi selama puncak aksi protes.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan dalam opini yang dimuat di Wall Street Journal bahwa Iran akan membalas dengan kekuatan penuh jika kembali diserang.

"Tidak seperti sikap menahan diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kami yang kuat tidak akan ragu untuk membalas dengan seluruh kekuatan yang kami miliki jika kami kembali diserang," tulisnya. Ia juga memperingatkan bahwa konfrontasi penuh akan meluas dan berkepanjangan serta berdampak pada masyarakat global.

Sementara itu, dalam wawancara dengan News Nation, Trump menegaskan bahwa jika Iran sampai melakukan pembunuhan terhadap Presiden AS, maka Iran akan "dihapus dari muka bumi."

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)