Stasiun Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Foto: Dok. laman PT KAI.
Menjelajah Stasiun Ketapang, Gerbang Kereta Api Ujung Timur Jawa
Fachri Audhia Hafiez • 21 September 2026 12:00
Banyuwangi: Bau garam laut yang bertiup dari Selat Bali menyambut setiap derak roda besi yang berhenti di Stasiun Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Lebih dari sekadar tempat naik dan turun penumpang, stasiun yang berdiri anggun di ujung paling timur Pulau Jawa ini menyimpan jejak sejarah sepanjang lebih dari satu abad, menemani geliat mobilitas masyarakat dari zaman ke zaman.
Kini, stasiun historis tersebut makin menunjukkan taringnya sebagai urat nadi transportasi utama menuju Pulau Dewata. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Stasiun Ketapang mencatat 553.202 aktivitas penumpang naik dan turun. Angka ini melonjak 8,50 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 509.862 aktivitas.
Lompatan ini bukan fenomena semalam. Jika ditarik lima tahun ke belakang, tren pertumbuhan pelanggan terasa makin kuat. Pada Januari–Agustus 2022, aktivitas penumpang tercatat sebanyak 277.928 orang, lalu terus melesat menjadi 388.193 pada 2023, 449.867 pada 2024, hingga menembus angka 553.202 pada Agustus 2026. Pertumbuhan fantastis sekitar 99,05 persen ini mempertegas peran vital Stasiun Ketapang.
VP of Corporate Communication PT KAI, Anne Purba, mengungkapkan bahwa dinamika tersebut merupakan bagian dari perjalanan panjang Stasiun Ketapang yang senantiasa adaptif terhadap kebutuhan zaman.
"Perkembangan ini menjadi bagian dari perjalanan panjang Stasiun Ketapang yang terus mengikuti perubahan kawasan dan kebutuhan masyarakat," ujar Anne dikutip dari laman PT KAI dikutip Senin, 21 September 2026.
Kisah stasiun ini bermula dari awal abad ke-20. Kala itu, perusahaan kereta api Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS), menggarap rel menuju Banyuwangi. Jalur Mrawan–Banyuwangi sepanjang 58 kilometer resmi dibuka pada 2 Februari 1903, memungkas garis rel di ujung timur Jawa lewat beroperasinya Stasiun Banyuwangi (Lama).
Di masa kolonial, stasiun ini memegang peran krusial dalam denyut perdagangan. Terhubung langsung dengan Pelabuhan Boom di kawasan Mandar, jalur kereta tak cuma mengangkut penumpang, tetapi juga menjadi tulang punggung komoditas barang yang masuk dan keluar lewat jalur laut. Memasuki tahun 1926, tercatat setidaknya 12 perjalanan kereta melintasi rute Kalibaru–Banyuwangi dan Kalisat–Banyuwangi setiap harinya.
Seiring berjalannya waktu, titik simpul transportasi di Banyuwangi bergeser. Aktivitas pelabuhan dipindahkan dari Pelabuhan Boom ke kawasan Ketapang sejak 1 Januari 1974. Mengimbangi pergeseran ini, jalur kereta api baru Kabat–Banyuwangi Baru resmi dibuka pada 7 September 1985 bersamaan dengan beroperasinya Stasiun Banyuwangi Baru.

Penumpang di Stasiun Ketapang Banyuwangi, Selasa, 24 Februari 2026. ANTARA/HO-Humas KAI Daop Jember.
Lokasinya yang hanya sejengkal dari Pelabuhan Penyeberangan Ketapang membuat pelayanan penumpang perlahan dialihkan dari Stasiun Banyuwangi Lama yang akhirnya resmi dinonaktifkan pada 31 Maret 1988. Stasiun Banyuwangi Baru pun bersolek dan berganti nama menjadi Stasiun Ketapang pada 2019.
Kini, Stasiun Ketapang berdiri kokoh sebagai gerbang transit strategis bagi para pelancong dan warga lokal yang hendak menyeberang ke Bali. Anne menegaskan, perjalanan Stasiun Ketapang memperlihatkan transformasi sebuah prasarana umum yang tumbuh seirama dengan daerahnya.
"Perjalanan Stasiun Ketapang memperlihatkan bagaimana sebuah stasiun dapat terus beradaptasi mengikuti perkembangan wilayah. Dari yang dahulu ikut mendukung aktivitas perdagangan melalui Pelabuhan Boom, kini Stasiun Ketapang menjadi bagian dari perjalanan masyarakat menuju Banyuwangi dan Bali," tutur Anne.
Lebih dari 120 tahun sejak peluit kereta api pertama kali membahana di bumi Blambangan, Stasiun Ketapang belum redup. Ia tetap setia menjadi titik jangkar yang menghubungkan kisah para pengembara di ujung timur Pulau Jawa.