IHSG Ditutup ke Level Tertinggi Harian di 6.319

Ilustrasi. Foto: Dok MI

IHSG Ditutup ke Level Tertinggi Harian di 6.319

Eko Nordiansyah • 4 August 2026 16:49

Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sore ini bertengger di zona hijau. IHSG menguat sepanjang perdagangan hingga penutupan sore hari, Selasa, 4 Agustus 2026.

Berdasarkan data RTI, IHSG sore naik 85,115 poin atau setara 1,37 persen ke posisi 6.319,613. IHSG sebelumnya sempat dibuka ke level 6.354. Sementara itu, IHSG juga berada di level terendah 6.238 dan tertinggi di posisi 6.319.

Adapun total volume saham yang telah diperdagangkan adalah 33,514 miliar senilai Rp13,007 triliun. Sedangkan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.054,625 triliun dengan frekuensi sebanyak 2.127.093 kali.

Sore ini, tercatat sebanyak 399 saham bergerak menguat. Sementara itu, sebanyak 224 saham melemah, dan 170 saham lainnya stagnan.


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com)

Kinerja keuangan emiten topang IHSG

Dilansir dari Antara, Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai IHSG bergerak menguat ditopang oleh laporan kinerja keuangan emiten-emiten periode kuartal II-2026.

Dari dalam negeri, emiten- emiten di pasar modal Indonesia mulai melaporkan kinerja keuangan periode kuartal II-2026 atau semester I-2026, yang secara umum masih menunjukkan fundamental solid, terutama pada sektor perbankan, telekomunikasi, serta konsumsi.

Sementara itu, indeks PMI Manufacturing Indonesia membaik di level 50,2 pada Juli 2026 dari sebelumnya di level 46.9 pada Juni 2026, sekaligus menandai level tertinggi sejak Februari 2026. Output produksi mengalami kenaikan setelah selama empat bulan berturut-turut melemah, meskipun kenaikannya relatif kecil.

Neraca perdagangan masih mencatatkan defisit 450 juta dolar AS pada Juni 2026, namun membaik dibandingkan defisit USD1,61 miliar pada Mei 2026. Ekspor tumbuh 8,84 persen year on year (yoy) pada Juni 2026, atau membaik dari penurunan 5,73 persen (yoy) pada Mei 2026, namun impor meningkat 34,27 persen (yoy) dari sebelumnya 22,16 persen (yoy).

Sedangkan, laju inflasi melambat menjadi 2,88 persen (yoy) pada Juli 2026 dari sebelumnya 3,34 persen (yoy) pada Juni 2026, akibat deflasi sebesar 0,14 persen month to month (mtm) pada Juli 2026.

Deflasi tersebut disebabkan karena adanya panen raya, sehingga mendorong penurunan harga pada kelompok makanan, minum dan tembakau. Penurunan harga BBM non-subsidi pada Agustus 2026, berpotensi akan mendorong laju inflasi lebih landai.

Dari mancanegara, kalender ekonomi Amerika Serikat (AS) didominasi oleh data pasar tenaga kerja, dengan data terbaru tentang lowongan pekerjaan yang akan dirilis pada Selasa, 4 Agustus 2026, data pekerjaan swasta pada Rabu, 5 Agustus 2026, data PHK pada Kamis, 6 Agustus, serta laporan nonfarm payrolls Juli 2026 pada Jumat, 7 Agustus.

Data pasar tenaga kerja akan dirilis pada saat pelaku pasar merespon negatif terhadap keputusan suku bunga The Fed pada pekan lalu. Komentar Chairman the Fed Kevin Warsh pasca keputusan kebijakan suku bunga acuan, gagal meyakinkan para investor bahwa bank sentral dapat mengatasi inflasi.

(Eko Nordiansyah)