Rupiah Ditutup ke Rp18.027/USD Selasa Sore

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Ditutup ke Rp18.027/USD Selasa Sore

Eko Nordiansyah • 4 August 2026 16:35

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Rupiah melemah di tengah meningkatnya harga minyak dunia dan kehati-hatian kebijakan The Fed.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 4 Agustus 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp18.027 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun 30 poin atau setara 0,17 persen dari posisi Rp17.997 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp18.015 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak 29 poin atau setara 0,16 persen dari Rp17.986 per USD di penutupan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp18.037 per USD. Rupiah bergerak melemah dibandingkan dengan perdagangan sebelumnya yang di level Rp17.991 per USD.

Baca Juga :

Penjualan Mobil Naik, Purbaya Pede Daya Beli Terjaga


(Ilustrasi. Foto: MI/Susanto)

Pasar global tunggu data tenaga kerja AS

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut telah membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah Teheran bersama sejumlah negara di Timur Tengah meminta ruang untuk melakukan negosiasi.

Trump mengatakan pembicaraan akan dimulai pada Senin, 3 Agustus 2026, dengan fokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz serta upaya memastikan Iran menghentikan ambisi pengembangan program nuklirnya.

Pernyataan tersebut mendorong harga minyak dunia turun lebih dari US$5 per barel pada awal perdagangan Asia. Pelemahan harga minyak meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi yang berkepanjangan, sekaligus mengurangi risiko inflasi yang dapat mendorong kebijakan moneter lebih ketat.

Meski demikian, pemerintah Iran membantah sedang melakukan negosiasi dengan Washington sehingga ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor kini beralih ke arah kebijakan moneter The Fed. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati setelah tiga pejabat Federal Reserve yang sebelumnya menyampaikan perbedaan pendapat dalam rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada Jumat, 31 Juli 2026, bahwa inflasi di AS masih terlalu tinggi.

Mereka menilai kenaikan suku bunga masih diperlukan untuk menjaga kredibilitas bank sentral dalam mengendalikan inflasi. Sejumlah data ekonomi penting AS akan menjadi perhatian investor sepanjang pekan ini, antara lain data lowongan pekerjaan JOLTS, laporan ketenagakerjaan sek

(Eko Nordiansyah)