Ilustrasi bendera Iran. (Anadolu Agency)
Iran Tegaskan AS dan Israel Akan Jadi Target Sah Jika Washington Menyerang
Willy Haryono • 11 January 2026 16:38
Teheran: Iran memperingatkan bahwa pasukan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel akan menjadi target sah jika Washington berani melancarkan serangan terhadap Republik Islam tersebut. Ancaman disampaikan Iran di tengah gelombang protes nasional yang menantang sistem teokrasi Teheran.
Dikutip dari Irish News, unjuk rasa yang telah berlangsung lebih dari dua pekan terus meluas hingga Minggu, 11 Januari 2026, dengan massa turun ke jalan di ibu kota Teheran dan kota terbesar kedua Iran.
Kekerasan yang menyertai demonstrasi dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 116 orang, sementara sekitar 2.600 lainnya ditahan. Pemadaman internet dan terputusnya jaringan komunikasi membuat pemantauan situasi dari luar negeri semakin sulit.
Di tengah situasi tersebut, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakan bahwa militer Amerika Serikat dan Israel akan menjadi “target yang sah” jika AS menyerang Iran, sebagaimana ancaman yang disampaikan Presiden AS Donald Trump. Pernyataan itu disampaikan dalam sidang parlemen yang diwarnai teriakan “matilah Amerika” dari para anggota.
Qalibaf memuji kepolisian dan Garda Revolusi Iran, termasuk pasukan sukarelawan Basij, karena dinilai “berdiri teguh” menghadapi protes. Ia juga menegaskan bahwa pihak berwenang akan menindak para demonstran yang ditangkap dengan hukuman paling berat.
Ancaman Langsung ke Israel dan Pasukan AS
Dalam pidatonya, Qalibaf secara langsung mengancam Israel, yang ia sebut sebagai “wilayah pendudukan," serta pasukan militer AS di kawasan. Ia menyatakan bahwa jika Iran diserang, maka Israel dan seluruh pusat, pangkalan, serta kapal militer Amerika di wilayah tersebut akan menjadi sasaran.“Kami tidak menganggap diri kami hanya akan bereaksi setelah serangan terjadi. Kami akan bertindak berdasarkan setiap tanda objektif adanya ancaman,” kata Qalibaf, mengisyaratkan kemungkinan serangan pendahuluan.
Pernyataan keras itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa pemadaman informasi akan mendorong kelompok garis keras dalam aparat keamanan Iran melakukan penindakan berdarah terhadap para demonstran, meski Trump menyatakan kesediaannya menyerang Iran demi melindungi pengunjuk rasa damai.
Trump menyatakan dukungannya terhadap para demonstran dan mengatakan Iran sedang menghadapi peluang kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia juga disebut telah menerima sejumlah opsi militer terkait kemungkinan serangan terhadap Iran, meski belum mengambil keputusan akhir.
Masih belum jelas sejauh mana Iran serius merealisasikan ancaman tersebut, terutama setelah pertahanan udaranya dilaporkan rusak parah dalam konflik selama 12 hari dengan Israel pada Juni lalu.
Keputusan akhir terkait perang berada di tangan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kini berusia 86 tahun.
Baca juga: Trump Pertimbangkan Serangan ke Iran, Risiko Balasan Jadi Sorotan