Kompor listrik ilustrasi. Foto: bosch-home.co.id
Migrasi ke Kompor Listrik Dinilai Bisa Tekan Impor Elpiji
Arga Sumantri • 14 April 2026 22:54
Jakarta: Wakil Ketua Komisi XII DPR Sugeng Suparwoto menilai elektrifikasi rumah tangga melalui migrasi ke kompor induksi bisa menjadi langkah strategis untuk menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji. Konsumsi elpiji saat ini mencapai sekitar 8 juta metrik ton per tahun, sebagian besar masih impor.
"Ini adalah beban besar bagi neraca perdagangan kita," jelas Sugeng dalam keterangan yang dikutip Selasa, 14 April 2026.
Ia menyebut penggunaan kompor induksi lebih efisien ketimbang kompor gas konvensional. Penggunaan listrik untuk memasak dinilai dapat menekan biaya operasional rumah tangga sekaligus mengurangi beban subsidi energi pemerintah.
"Secara efek, penggunaan listrik di sektor rumah tangga, termasuk kompor induksi, akan menghemat sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan penggunaan energi fosil seperti LPG subsidi. Tingkat ketergantungan impor akan kita kurangi secara signifikan," paparnya.
"Kita punya pasokan listrik yang andal dari kekuatan domestik. Dengan mengubah energi berbasis impor seperti LPG menjadi energi berbasis listrik, kita tidak hanya menghemat anggaran, tetapi juga memperkuat kedaulatan energi nasional tepat dari dapur masyarakat," ujarnya.
Elektrifikasi transportasi
Ia juga mendorong elektrifikasi transportasi secara masif sebagai langkah inovatif untuk menekan beban subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan memperkuat struktur APBN."Listrik harus menjadi backbone energi kita di masa depan. Berdasarkan hitungan studi, penggunaan listrik di sektor rumah tangga dan transportasi dapat menghemat kurang lebih 30 persen dibandingkan penggunaan energi fosil bersubsidi," ujar Sugeng.

Ilustrasi mobil listrik. Istimewa.
Menurutnya, kapasitas pasokan listrik nasional saat ini perlu dimanfaatkan secara optimal untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada BBM dan elpiji. Ia menilai, pengalihan konsumsi energi ke listrik akan membuat subsidi energi menjadi lebih tepat sasaran.
"Ini adalah langkah strategis untuk memastikan beban APBN kita berkurang. Dengan menjadikan listrik sebagai tulang punggung utama energi nasional, kita tidak hanya beralih ke energi bersih, tetapi juga menciptakan efisiensi anggaran yang signifikan," jelasnya.
Ia menekankan elektrifikasi transportasi, terutama pada kendaraan operasional pemerintah dan angkutan umum, dapat menjadi langkah awal yang terukur untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi secara signifikan.
Selain itu, pemanfaatan listrik domestik yang melimpah juga dinilai dapat mengurangi tekanan impor energi, sehingga memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga stabilitas fiskal dalam jangka panjang.