Momentum Strategis Indonesia Masuk Ekosistem Teknologi Semikonduktor Global

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan langsung penandatanganan perjanjian kerangka kerja antara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia dan perusahaan teknologi global, ARM Limited, di London, Inggris, Senin, 23 Februari 2026. Foto: Dok. BPMI

Momentum Strategis Indonesia Masuk Ekosistem Teknologi Semikonduktor Global

Fachri Audhia Hafiez • 12 March 2026 14:42

Jakarta: Rencana kerja sama Indonesia dengan raksasa desain chip asal Inggris, Arm Ltd, dinilai sebagai momentum krusial untuk memperkuat kapasitas teknologi nasional. Kolaborasi dengan pemain kunci industri semikonduktor global ini dipandang sebagai jalan bagi Indonesia untuk masuk ke dalam ekosistem teknologi tinggi yang selama ini didominasi negara maju.

“Kerja sama dengan Arm harus dimaknai sebagai pintu masuk bagi Indonesia untuk mempercepat transfer teknologi semikonduktor. Ini bukan sekadar investasi teknologi, tetapi peluang untuk membangun kapasitas engineering nasional di bidang desain chip,” ujar Ketua Umum HIPPI Jakarta Selatan, Azka Aufary Ramli, dalam keterangannya di Jakarta, dilansir Media Indonesia, Kamis, 12 Maret 2026.
 


Azka menjelaskan bahwa Indonesia tidak perlu terburu-buru membangun pabrik yang membutuhkan biaya fantastis. Menurutnya, langkah paling strategis saat ini adalah memulai dari pusat desain chip dan pengembangan talenta, mengingat arsitektur prosesor Arm telah menjadi fondasi bagi 99% smartphone di dunia serta teknologi kecerdasan buatan (AI).

“Indonesia tidak harus langsung membangun pabrik wafer bernilai puluhan miliar dolar. Banyak negara memulai dari pusat desain chip dan pengembangan talenta semikonduktor. Kerja sama dengan Arm dapat menjadi langkah awal yang sangat strategis,” jelas Azka.


Ketua Umum HIPPI Jakarta Selatan, Azka Aufary Ramli. Foto: Dok. Istimewa.

Lebih lanjut, Azka menekankan pentingnya komitmen nyata dalam transfer pengetahuan, bukan sekadar penggunaan lisensi teknologi. Ia mendorong adanya langkah konkret seperti pembangunan pusat desain chip nasional hingga kolaborasi riset antara industri global dengan universitas di Indonesia.

“Jika kerja sama ini mampu menghasilkan transfer knowledge yang konkret, Indonesia berpeluang menjadi pusat pengembangan talenta semikonduktor di Asia Tenggara dalam satu hingga dua dekade ke depan,” ujar Azka.

Restrukturisasi rantai pasok global akibat dinamika geopolitik saat ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengambil peran strategis di kawasan Asia Tenggara. Melalui sinergi ini, Indonesia diharapkan mampu bersaing dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam yang telah lebih dulu masuk dalam rantai nilai industri semikonduktor.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)