Harga Emas Diramal Bakal Menguat Jadi Segini

Ilustrasi emas batangan. Foto: goldmarket.fr

Harga Emas Diramal Bakal Menguat Jadi Segini

Husen Miftahudin • 10 March 2026 10:34

Jakarta: Harga emas dunia pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, diperkirakan masih bergerak dalam tren penguatan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan lonjakan harga energi.

Berdasarkan analisis dari Dupoin Futures Andy Nugraha, pergerakan emas atau XAU/USD saat ini menunjukkan kecenderungan bullish meskipun sempat mengalami tekanan pada awal pekan.

Pada perdagangan awal pekan, emas sempat memangkas sebagian kerugiannya namun tetap berada di bawah harga pembukaan lebih dari 1,50 persen. Kondisi ini terjadi di tengah gangguan pengiriman minyak di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) hingga lebih dari 30 persen dan mendekati level USD113 per barel.

"Situasi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap pasar komoditas global, termasuk emas. Saat ini, XAU/USD tercatat diperdagangkan di sekitar level USD5.090 per troy ons," jelas Andy dalam analisis harian, Selasa, 10 Maret 2026.
 

Baca juga: Turun 1,5%, Kilau Harga Emas Dunia Masih Memudar
 

Tren bullish emas semakin menguat


Andy menjelaskan dari sisi teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average pada timeframe H1 menunjukkan tren bullish pada emas semakin menguat. Struktur harga yang terbentuk mengindikasikan minat beli masih mendominasi pasar meskipun volatilitas tetap tinggi akibat sentimen global yang berkembang.

Menurut analisis Dupoin Futures, apabila tekanan bullish terus berlanjut, harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area resistance di sekitar level USD5.245. Level ini menjadi target terdekat yang berpotensi diuji oleh pasar jika momentum pembelian tetap terjaga sepanjang sesi perdagangan. Namun demikian, pelaku pasar juga perlu mewaspadai potensi koreksi apabila harga gagal mempertahankan momentum penguatan.

"Dalam skenario tersebut, area support terdekat diperkirakan berada di kisaran USD5.126 yang dapat menjadi titik pantulan harga sebelum melanjutkan pergerakan selanjutnya," papar Andy.

Secara fundamental, pergerakan emas saat ini masih dipengaruhi oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Harga emas tercatat diperdagangkan dengan kenaikan tipis di sekitar USD5.140 pada sesi awal perdagangan Asia. Ketegangan kawasan masih menjadi faktor utama yang menopang permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

Konflik yang berlangsung di Timur Tengah kini telah memasuki hari ke-11, dengan sejumlah serangan militer masih terjadi di beberapa wilayah termasuk Iran tengah dan Beirut. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia juga dilaporkan masih tertutup secara efektif. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global karena sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut.

Penutupan jalur strategis tersebut juga membuat beberapa produsen minyak utama di kawasan Teluk Persia, termasuk Arab Saudi, terpaksa mengurangi produksi. Ketidakpastian ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang berkepanjangan, sehingga mendorong investor mencari instrumen lindung nilai seperti emas.

Meski demikian, kenaikan harga emas juga menghadapi tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat. Lonjakan harga minyak mendorong inflasi yang berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Suku bunga yang tinggi biasanya menjadi faktor negatif bagi emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.


(Ilustrasi, pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Penguatan dolar 'sandera' emas


Indeks dolar AS (DXY) tercatat naik sekitar 0,26 persen ke level 99,11 dan mencapai posisi tertinggi hampir tiga bulan terakhir. Penguatan dolar ini menjadi salah satu faktor yang dapat membatasi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Selain itu, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat melalui laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan Februari yang dijadwalkan pada Rabu mendatang. CPI utama diperkirakan meningkat sekitar 2,4 persen secara tahunan, sementara CPI inti diproyeksikan naik 2,5 persen.

"Jika data inflasi menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, hal tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan harga emas," ungkap Andy.

Dengan kombinasi sentimen teknikal dan fundamental tersebut, Dupoin Futures menilai emas masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan dalam jangka pendek, meskipun volatilitas diperkirakan tetap tinggi seiring perkembangan situasi geopolitik dan kebijakan moneter global.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)