Sambut Ramadan, Puluhan Santri di Jepara Tampilkan Tari Sufi

Gelaran tari sufi oleh santri di Kriyan, Jepara. Metrotvnews.com/ Rhobi Shani

Sambut Ramadan, Puluhan Santri di Jepara Tampilkan Tari Sufi

Rhobi Shani • 14 February 2026 11:30

Jepara: Puluhan santri di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, memiliki tradisi unik menjelang Ramadan yakni menampilkan tari sufi. Pagelaran tari kolosal ini diharapkan membuat para warga dapat menyambut bulan puasa dengan kebahagiaan. 

Penampilan tari sufi dilakukan oleh puluhan santri Pondok Pesantren Nailun Najah, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara pada Jumat, 13 Februari 2025 sore. Tari sufi dilakukan di pelataran Masjid Al Makmur, Kriyan. 

Ratusan warga memadati pelataran sekitar masjid untuk melihat tari kolosal tersebut. Tak hanya santri dewasa, ada pula santri dengan usia belia yang turut dalam barisan para penari sufi. Mereka memeragakan gerakan tari sufi dengan berputar melawan arah jarum jam. 

Gelaran tari sufi oleh santri di Kriyan, Jepara. Metrotvnews.com/ Rhobi Shani 

Pengasuh Ponpes Nailun Najah, Muhammad, menuturkan bahwa tari sufi menjadi agenda rutin yang dilakukan tiap tahun menjelang Ramadan. Total ada sekitar 38 santri yang menampilkan tari sufi dengan memakai baju putih hingga warna-warni. 

"Setiap Jumat terakhir di bulan Syaban itu kita mengadakan tari kolosal. Tujuannya sebagai penanda bahwa bulan Syaban hampir berakhir dan masuk bulan Ramadan," beber Muhammad. 

Gus Mad, sapaan akrabnya, mengatakan jika gelaran tari sufi ini untuk mengajak masyarakat menyambut bulan puasa dengan kebahagiaan serta suka cita. Dia menerangkan bahwa makna tari sufi sendiri merupakan wujud menebar cinta dan kebaikan terutama bagi masyarakat sekitar. 

"Makna tari sufi menebar cinta. Tangan ke bawah itu menyebarkan kebaikan-kebaikan. Tangan kanan ke atas itu simbol setelah kita dapat rahmat dari Allah anugerah dari Allah jangan sampai tangan kita menggenggam," ujar Gus Mad.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)