Program Water Guardian Upaya Mewujudkan Sanitasi Berkelanjutan

Peresmian proyek sanitasi Water Guardian di Kemayoran, Jakarta Pusat. Istimewa

Program Water Guardian Upaya Mewujudkan Sanitasi Berkelanjutan

Whisnu Mardiansyah • 7 September 2026 21:22

Jakarta: Kepedulian terhadap persoalan air bersih dan sanitasi membawa pelajar Indonesia Darren Ismaya Karmaina pada sebuah inisiatif sosial bernama Water Guardian. Gagasan tersebut tidak berhenti pada upaya membangun kesadaran, tetapi diwujudkan melalui pembangunan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) bagi masyarakat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Fasilitas tersebut diresmikan pada Sabtu, 5 September 2026. Proyek ini berangkat dari perhatian Darren terhadap akses air bersih dan sanitasi sekaligus ketertarikannya pada Sustainable Development Goal (SDG) 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi.

Bagi Darren, kepedulian terhadap persoalan sosial perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret. Pertanyaan mengenai peran seorang pelajar dalam membantu persoalan nyata di tengah masyarakat kemudian menjadi awal perjalanan Water Guardian.

“Apa yang sebenarnya bisa dilakukan seorang pelajar untuk membantu menghadapi persoalan nyata di masyarakat? Dari pertanyaan tersebut, Water Guardian berkembang dari sebuah gagasan menjadi proyek nyata melalui kolaborasi dengan masyarakat, tokoh setempat, pemerintah daerah, mitra CSR, serta berbagai pihak yang mendukung pelaksanaannya,” kata Darren di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
 


Sebelum fasilitas tersebut selesai, pembangunan Water Guardian telah dimulai melalui peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Juni 2026. Proses tersebut melibatkan pemerintah setempat, tokoh masyarakat, dan warga. Setelah melewati tahapan pembangunan, fasilitas MCK kini telah rampung dan mulai memasuki tahap operasional. Namun, bagi Darren, penyelesaian pembangunan belum menandai berakhirnya perjalanan Water Guardian.

“Membangun fasilitas adalah langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut benar-benar digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat,” kata Darren.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu pijakan Water Guardian dalam menentukan tahapan setelah pembangunan fasilitas. Perhatian selanjutnya diarahkan pada bagaimana fasilitas dapat digunakan dan dikelola secara berkelanjutan bersama masyarakat.

Water Guardian menempatkan proyek di Kemayoran sebagai Site #1. Lokasi ini menjadi bagian awal dari proses pembelajaran mengenai pengelolaan fasilitas sanitasi berbasis masyarakat secara berkelanjutan.

Setelah fasilitas dibangun, perhatian diarahkan pada pemeliharaan dan penggunaan fasilitas. Keterlibatan masyarakat, pemantauan penggunaan, kualitas air, kebersihan, higienitas, hingga pengukuran dampak juga masuk dalam tahapan berikutnya.

“Apabila model Kemayoran nantinya terbukti efektif dan berkelanjutan, Water Guardian dapat mempelajari kemungkinan mereplikasi pendekatan tersebut di komunitas lain,” kata Darren.

Dengan pendekatan itu, proyek Kemayoran tidak ditempatkan hanya sebagai pembangunan fasilitas fisik. Lokasi tersebut juga menjadi bagian dari proses untuk melihat penggunaan, pemeliharaan, dampak, serta kemungkinan pengembangan model di masa mendatang.

Water Guardian juga menjadi pengalaman bagi Darren untuk memahami kepemimpinan di luar lingkungan pendidikan. Persoalan sosial yang dihadapi secara langsung memperlihatkan kompleksitas yang berbeda dibandingkan pembelajaran di ruang kelas.

Dalam menjalankan proyek tersebut, Darren belajar mendengarkan masyarakat dan berkomunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Ia juga belajar meminta dukungan dari pihak yang lebih berpengalaman, menggalang kolaborasi, serta menghadapi keterbatasan selama proses pelaksanaan.

Pengalaman tersebut membawanya pada pemahaman mengenai pentingnya kerja bersama dalam menjalankan proyek sosial. Sebuah gagasan tidak cukup hanya mengandalkan satu orang untuk dapat berjalan dan memberikan manfaat.

Karena itu, Darren tidak ingin Water Guardian diposisikan sebagai proyek seorang pelajar yang hadir untuk menyelesaikan persoalan sebuah komunitas. Sebaliknya, Water Guardian diarahkan sebagai bentuk kolaborasi antara generasi muda, masyarakat, pemerintah, sektor swasta, serta akademisi pada tahap berikutnya.

“Dengan kolaborasi kita dapat memberikan pengabdian yang maksimal kepada masyarakat,” kata Darren.

Melalui Water Guardian, Darren ingin menunjukkan ruang kontribusi bagi generasi muda untuk terlibat dalam persoalan yang ada di lingkungan sekitar. Usia tidak menjadi satu-satunya ukuran untuk mulai mengambil bagian dalam upaya membantu masyarakat.

Namun, kepedulian perlu disertai langkah yang terarah. Water Guardian menempatkan kepedulian, aksi kolaborasi, pengukuran, perbaikan, dan keberlanjutan sebagai bagian dari perjalanan proyek.

Karena itu, peresmian fasilitas MCK di Kemayoran tidak ditempatkan sebagai garis akhir. Setelah fasilitas mulai digunakan, tahap berikutnya justru menjadi penting untuk melihat hasil dari pembangunan tersebut. Pertanyaan mengenai efektivitas fasilitas dan manfaatnya bagi masyarakat menjadi bagian dari evaluasi Water Guardian.

“Justru setelah fasilitas mulai digunakan, muncul pertanyaan yang lebih penting, apakah yang kami bangun benar-benar bekerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut akan menjadi dasar bagi perjalanan Water Guardian berikutnya,” tutup Darren.

Bagi warga Kemayoran, inisiatif tersebut mendapat apresiasi. Kepedulian seorang pelajar terhadap persoalan air bersih dan sanitasi diwujudkan melalui pembangunan fasilitas yang melibatkan masyarakat dan sejumlah pemangku kepentingan.

Sueb, warga Kemayoran, menilai semangat Darren menunjukkan ruang kontribusi generasi muda dalam merespons persoalan di lingkungan sekitar.

“Kami sebagai masyarakat sangat mengapresiasi semangat Darren. Aksi nyata Darren ini adalah representasi bahwa generasi muda Indonesia dapat mulai berkontribusi terhadap persoalan nyata di lingkungan sekitar mereka,” kata Sueb.

Peresmian fasilitas MCK di Kemayoran pun menjadi satu tahapan dalam perjalanan Water Guardian. Setelah pembangunan selesai, perhatian beralih pada penggunaan, perawatan, pengukuran dampak, serta upaya memastikan manfaat fasilitas dapat terus dirasakan masyarakat.

Bagi Darren, perjalanan tersebut menjadi proses untuk membuktikan bagaimana sebuah kepedulian dapat berkembang menjadi aksi kolaboratif dan terus dievaluasi agar manfaatnya dapat dipertahankan.

(Whisnu M)