Presiden Rusia Vladimir Putin. (Anadolu Agency)
Putin Dorong Kebijakan Bebas Visa Rusia-Tiongkok Berlaku Permanen
Willy Haryono • 1 September 2026 11:33
Bishkek: Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Moskow siap bekerja sama dengan Tiongkok untuk menjadikan kebijakan bebas visa antara kedua negara berlaku permanen.
“Kami siap bekerja sama untuk menjadikan rezim bebas visa ini permanen jika pihak Tiongkok menganggap hal tersebut memungkinkan dan bermanfaat,” kata Putin saat bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping di sela-sela KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Bishkek, Kirgiztan, Senin, 31 Agustus 2026.
Rusia memberlakukan kebijakan bebas visa bagi warga negara Tiongkok secara timbal balik pada Desember 2025. Kebijakan tersebut memungkinkan warga Tiongkok berada di Rusia hingga 30 hari tanpa visa dan semula berlaku hingga 14 September 2026.
Tiongkok sebelumnya telah menerapkan kebijakan serupa bagi warga Rusia. Kedua negara kemudian sepakat memperpanjang kebijakan bebas visa tersebut hingga akhir 2027.
Menurut Putin, kebijakan tersebut telah mendorong peningkatan mobilitas warga kedua negara. Jumlah perjalanan wisata antara Rusia dan Tiongkok meningkat 43 persen pada paruh pertama 2026.
Duta Besar Tiongkok untuk Rusia Zhang Hanhui sebelumnya mengatakan jumlah wisatawan Tiongkok ke Rusia meningkat hampir 50 persen pada kuartal pertama 2026 setelah kebijakan bebas visa diberlakukan.
Dorongan untuk menjadikan kebijakan bebas visa permanen muncul ketika Moskow dan Beijing terus mempererat hubungan antarmasyarakat dan kerja sama ekonomi. Pariwisata menjadi salah satu bagian dari agenda tersebut.
Putin dan Xi Bahas Kerja Sama Bilateral
Dalam pertemuan tersebut, Putin dan Xi juga memuji kekuatan hubungan bilateral serta kerja sama kedua negara dalam kerangka SCO.Xi mengatakan fondasi hubungan Tiongkok-Rusia akan terus diperkuat. Ia juga menyerukan koordinasi yang lebih erat untuk mendorong perdamaian, pembangunan, dan kerja sama.
Sementara itu, Putin menyebut kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis Rusia-Tiongkok sebagai model hubungan antarnegara yang didasarkan pada kedaulatan, kesetaraan, dan keuntungan bersama.
Putin turut menyoroti pertumbuhan hubungan ekonomi kedua negara, termasuk di sektor energi, transportasi, dan pertanian. Perdagangan produk pertanian antara Rusia dan Tiongkok disebut meningkat 34 persen secara tahunan.
Secara terpisah, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pembicaraan Putin dan Xi berlangsung dalam suasana “konstruktif dan bersahabat."
Menurut Peskov, kedua pemimpin saling mempercayai dan menggunakan hubungan tersebut untuk membahas berbagai persoalan kompleks.
“Pertemuan tersebut secara tradisional berlangsung dalam suasana yang sangat konstruktif dan bersahabat. Baik Xi maupun Putin saling percaya dan menggunakan kepercayaan itu untuk menangani persoalan-persoalan paling sulit,” ujar Peskov kepada Vesti.
Peskov mengatakan perang Rusia-Ukraina hanya dibahas secara sekilas dalam pertemuan tersebut dan tidak menjadi agenda pembicaraan utama.
“Perang Ukraina hanya dibahas sekilas. Tidak ada pembahasan yang nyata mengenai hal tersebut,” katanya.
Baca juga: Xi Jinping Soroti Ketidakpastian Global saat Bertemu Putin di KTT SCO