Butuh Pendekatan Humanis Memutus Siklus Kekerasan di Papua

Ilustrasi papua. Dok. Istimewa

Butuh Pendekatan Humanis Memutus Siklus Kekerasan di Papua

M Sholahadhin Azhar • 31 August 2026 13:31

Jakarta: Papua dinilai membutuhkan pendekatan yang humanis. Sehingga, dapat memutus siklus kekerasan yang terjadi di sana.

"Jangan sampai kekerasan melahirkan kekerasan berikutnya," kata Direktur Eksekutif Merah Pusaka Stratejik Indonesia (MPSI) Noor Azhari, dalam keterangan tertulis, Senin, 31 Agustus 2026.

Hal itu diungkap Noor merespons laporan mengenai tiga warga sipil, yakni Silvester Assem, Selfiana Sory dan Anike Fatie. Mereka mengalami luka dalam insiden di Kampung Ainot, sekitar Sungai Kamundan, Maybrat, pada 14 Agustus 2026.

Noor mengatakan keselamatan warga harus menjadi prioritas utama. Dia meminta aparat penegak hukum mengusut insiden tersebut secara profesional, transparan dan berdasarkan bukti, sehingga fakta mengenai peristiwa maupun pihak yang bertanggung jawab dapat diketahui secara terang.

Noor meminta seluruh pihak tidak terburu-buru menarik kesimpulan sebelum hasil penyelidikan aparat disampaikan secara resmi. Noor juga mengingatkan agar insiden kekerasan tidak menimbulkan provokasi maupun memperuncing hubungan antarkelompok di tengah masyarakat.

"Kami mengajak masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Kita harus mendorong penyelesaian berdasarkan hukum, bukan dengan kekerasan," kata Noor.

Kondisi di salah satu area pegunungan di Papua. (MI/Susanto)

Menurut Noor, persoalan keamanan di Papua tidak boleh hanya dilihat dari perspektif keamanan semata. Perlindungan terhadap masyarakat sipil, akses terhadap layanan kesehatan, rasa aman dan kepastian hukum juga harus menjadi bagian penting dalam penanganan konflik.

"Kehadiran negara jangan hanya dirasakan ketika terjadi konflik, tetapi juga dalam bentuk perlindungan, pelayanan publik dan penegakan hukum yang adil," kata Noor.

(Achmad Zulfikar Fazli)