Tradisi Kepemimpinan PBNU dan Munculnya Nama Nasaruddin Umar

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul. Dokumentasi/ istimewa.

Tradisi Kepemimpinan PBNU dan Munculnya Nama Nasaruddin Umar

Deny Irwanto • 17 June 2026 20:33

Kediri: Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026, sejumlah nama mulai diperbincangkan sebagai figur yang dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin organisasi. Salah satu nama yang disebut memiliki peluang adalah Nasaruddin Umar.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menilai peluang Nasaruddin Umar tidak terlepas dari rekam jejak kepemimpinan yang selama ini berkembang di tubuh PBNU. Ia menilai, sejumlah Ketua Umum PBNU dalam beberapa dekade terakhir memiliki pengalaman yang sama sebelum dipercaya memimpin organisasi.

“Beliau salah satu yang berpotensi. Kalau kita lihat sejak zaman Gus Dur, paling tidak 40 tahun terakhir ini, tiga Ketua Umum PBNU sebelumnya pernah menjadi Katib Aam,” kata Gus Ipul dalam keterangan pers dikutip, Rabu, 17 Juni 2026.

Dia mencontohkan sejumlah tokoh yang pernah menempati posisi Katib Aam sebelum menjadi Ketua Umum PBNU. “Gus Dur sebelum Ketua Umum pernah jadi Katib Aam. Kemudian Kiai Said sebelum Ketua Umum juga pernah jadi Katib Aam. Terakhir Gus Yahya juga pernah jadi Katib Aam. Nah Prof Nasaruddin Umar ini juga pernah jadi Katib Aam,” jelasnya.

Selain jalur Katib Aam, Gus Ipul menjelaskan terdapat sejumlah posisi lain yang secara historis juga melahirkan pemimpin PBNU. Ia menyinggung pengalaman KH Idham Chalid yang pernah menjabat Sekjen PBNU serta KH Hasyim Muzadi yang sebelumnya memimpin PWNU Jawa Timur.


Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul (tengah). Dokumentasi/ istimewa.

"Kalau kita lihat statistik, yang pernah jadi Sekjen itu ada potensi. Yang pernah jadi Ketua PWNU Jawa Timur juga berpotensi. Yang pernah jadi Katib Aam juga berpotensi," jelasnya.

Meski turut disebut sebagai salah satu kader senior NU, Gus Ipul menegaskan dirinya tidak akan maju dalam pencalonan Ketua Umum PBNU. Ia juga menyatakan tidak bersedia apabila ada pihak yang mengusulkan namanya dalam kontestasi tersebut.

Di tengah dinamika menjelang Muktamar, Gus Ipul mengakui nama Nasaruddin Umar mulai banyak diperbincangkan dalam berbagai pertemuan dan komunikasi dengan pengurus daerah. Namun demikian, ia menegaskan seluruh proses penentuan calon pemimpin PBNU tetap akan berlangsung melalui mekanisme organisasi yang berlaku.

“Waktu saya keliling ke beberapa daerah, Prof Nasar memang disebut-sebut. Tapi selebihnya nanti tergantung Muktamar,” ujarnya.

Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2026 sendiri menjadi salah satu agenda penting bagi warga Nahdliyin untuk merumuskan berbagai rekomendasi keagamaan, kebangsaan, serta arah organisasi ke depan.

Momentum tersebut juga menjadi ruang konsolidasi bagi NU dalam menyiapkan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga tradisi yang telah diwariskan para ulama pendahulu.

 

(Deny Irwanto)