Kereta Whoosh. (Dwifa Bagaskoro S A/Wikimedia Commons)
5 Jenis Kereta yang Beroperasi di Indonesia, dari KRL hingga Whoosh
Riza Aslam Khaeron • 15 September 2026 13:35
Jakarta: Indonesia akan kembali memperingati Hari Kereta Api Nasional yang akan jatuh pada hari Senin, 28 September 2026 untuk mengenang peristiwa pengambilalihan stasiun dan kantor pusat kereta api dari pihak Jepang pada 28 September 1945. Peristiwa sejarah ini menjadi tonggak lahirnya Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI), yang merupakan cikal bakal PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI).
Lebih dari delapan dekade setelah peristiwa tersebut, sistem perkeretaapian Indonesia telah berkembang pesat dengan mengadopsi beragam teknologi modern.Moda transportasi kereta yang beroperasi kini tidak lagi terbatas pada rangkaian yang ditarik lokomotif, tetapi juga mencakup Kereta Rel Listrik (KRL), Kereta Rel Diesel/Elektrik (KRDE/I), MRT, LRT, hingga kereta cepat. KAI mencatat setidaknya ada lima teknologi utama dalam ekosistem KAI Group, yaitu lokomotif diesel, KRL, KRDE/I, LRT, dan kereta cepat Whoosh.
Berikut adalah jenis-jenis kereta yang beroperasi di Indonesia.
1. Kereta Api dengan Lokomotif Diesel

Ilustrasi Kereta Api Lokomotif Diesel. (PT. KAI)
Kereta dengan lokomotif diesel merupakan salah satu jenis armada yang paling banyak digunakan dalam jaringan perkeretaapian di Indonesia.
Sesuai namanya, lokomotif ini mengandalkan mesin diesel yang umumnya menggunakan bahan bakar solar. Berbeda dengan kereta rel yang memiliki unit penggerak pada rangkaiannya sendiri, posisi lokomotif berada di bagian depan atau belakang untuk menarik maupun mendorong rangkaian kereta penumpang dan gerbong barang.
Lokomotif diesel masih menjadi tulang punggung utama untuk layanan kereta api jarak jauh, kereta lokal, dan angkutan logistik KAI. Hingga Juni 2026, KAI mengoperasikan 551 lokomotif, 2.238 kereta penumpang, serta 8.907 gerbong barang. Angkutan barang yang ditarik lokomotif ini melayani pengiriman batu bara, peti kemas, BBM, semen, hasil perkebunan, hingga berbagai kebutuhan industri lainnya.
Jenis kereta ini sangat umum dijumpai pada berbagai layanan kereta antarkota di Pulau Jawa dan Sumatra. Dalam satu rangkaian, lokomotif dapat menarik berbagai kelas kereta dengan fasilitas berbeda sesuai dengan tingkat layanan yang disediakan.
2. Kereta Rel Listrik (KRL)

Ilustrasi KRL buatan INKA. (Dok. PT KAI)
Kereta Rel Listrik (KRL) merupakan rangkaian kereta yang bergerak menggunakan daya listrik utama dari Listrik Aliran Atas (LAA). Kabel pasokan daya ini biasanya terpasang dengan jarak rentang 1 km hingga 1,5 km antar-tiang pancang.
Berbeda dengan kereta konvensional yang membutuhkan lokomotif terpisah, rangkaian KRL menggunakan sistem Electric Multiple Unit (EMU) dengan perangkat penggerak yang terintegrasi langsung pada rangkaian kereta itu sendiri.
KRL terutama difungsikan sebagai moda angkutan komuter untuk mengangkut penumpang dalam jumlah besar di kawasan perkotaan dan aglomerasi. Kereta ini mampu menampung hingga 2.000 penumpang dalam satu kali perjalanan dengan kecepatan operasional mencapai 90 km/jam.
KAI Commuter mengoperasikan layanan ini di kawasan Jabodetabek serta rute Yogyakarta–Solo. KAI mencatat memiliki 1.064 unit sarana KRL per Juni 2026, di mana layanan komuter ini berhasil mengangkut lebih dari 204 juta pelanggan sepanjang semester pertama tahun 2026.
KRL menjadi salah satu pilihan utama masyarakat perkotaan karena kapasitas angkutnya yang besar serta frekuensi perjalanan yang tinggi.
3. Kereta Rel Diesel dan Elektrik (KRDE/I)

Ilustrasi: PT. INKA
Selain KRL, Indonesia juga mengoperasikan Kereta Rel Diesel dan Elektrik (KRDE/I). Berbeda dari KRL yang mendapatkan pasokan daya langsung dari kabel listrik aliran atas maupun bawah, kereta jenis ini memanfaatkan mesin diesel di dalam rangkaian untuk menghasilkan energi listrik mandiri yang menggerakkan motor utama.
Sama seperti KRL, KRDE/I memiliki sistem penggerak yang menyatu dengan rangkaian kereta sehingga tidak memerlukan lokomotif terpisah.
KRDE/I banyak digunakan pada layanan kereta regional serta kereta bandara. KAI mencatat terdapat 96 sarana KRDE/I dalam ekosistem perkeretaapiannya per Juni 2026. Teknologi ini terbukti efektif dalam mendukung efisiensi operasional layanan regional dan konektivitas menuju bandar udara
.
4. MRT

Ilustrasi: Wikimedia Commons
Mass Rapid Transit (MRT) merupakan sistem angkutan massal berbasis rel yang dirancang khusus untuk melayani mobilitas perkotaan tinggi dengan kapasitas dan frekuensi perjalanan yang rapat. MRT mampu mengangkut hingga 1.950 penumpang dalam satu kali perjalanan dengan kecepatan operasional mencapai 110 km/jam.
Saat ini, Indonesia mengoperasikan MRT Jakarta. Pada Fase 1, MRT Jakarta menghubungkan Lebak Bulus dengan Bundaran HI melalui jalur sepanjang 16 kilometer yang terdiri atas kombinasi jalur layang (elevated) dan bawah tanah (underground). Kereta MRT beroperasi di atas rel ganda dengan lebar sepur cape gauge 1.067 mm.
Dari sisi teknologi operasional, MRT Jakarta menerapkan sistem persinyalan Communication-Based Train Control (CBTC) dan Automatic Train Operation (ATO) Level 2. Kereta dapat berjalan secara otomatis di bawah pengawasan pusat kendali Operation Control Center (OCC), sementara masinis tetap bertugas di dalam kabin untuk mengawasi operasional dan mengendalikan fungsi darurat.
5. LRT

Ilustrasi: Dok. PT INKA
Light Rail Transit (LRT) atau kereta api ringan adalah sistem transportasi berbasis rel yang mengutamakan kelincahan mobilitas penumpang di dalam kawasan perkotaan. Berbeda dari KRL dan MRT, LRT umumnya mengambil pasokan daya listrik dari bawah melalui rel ketiga (third rail) atau Listrik Aliran Bawah dengan kecepatan operasional hingga 90 km/jam.
Dibandingkan kereta api antarkota, LRT dirancang untuk perjalanan dalam kota dengan jarak antarpemberhentian yang relatif dekat serta frekuensi perjalanan harian yang tinggi. Kapasitas angkutnya lebih terbatas dibanding MRT dan KRL, yakni sekitar 600 penumpang dalam sekali perjalanan.
Beberapa sistem LRT yang telah beroperasi di Indonesia antara lain LRT Jabodebek, LRT Jakarta, dan LRT Sumatera Selatan. Dalam ekosistem KAI Group, LRT Jabodebek dan LRT Sumsel menjadi bagian penting dari penyediaan moda angkutan massal perkotaan.
LRT Jabodebek menjadi salah satu pencapaian teknologi otomasi perkeretaapian di Indonesia karena telah menggunakan sistem CBTC Grade of Automation Level 3 (GoA3).
Sistem ini memungkinkan kereta beroperasi secara penuh secara otomatis tanpa masinis di dalam kabin, di mana seluruh pergerakan dinavigasi langsung dari OCC. LRT Jabodebek melayani dua lintas utama, yaitu rute Cibubur dan Bekasi, dengan 18 stasiun yang terhubung ke berbagai moda transportasi umum lainnya.
6. Whoosh

Foto: Dok. PT KCIC
Jenis kereta dengan kecepatan tertinggi yang beroperasi di Indonesia saat ini adalah kereta cepat Whoosh. Moda ini membawa teknologi perkeretaapian berkecepatan tinggi (high-speed rail) yang sepenuhnya berbeda dari sistem kereta antarkota konvensional.
Mulai beroperasi secara komersial sejak tahun 2023, Whoosh memiliki kecepatan operasional hingga 350 km/jam dan mampu menampung 601 penumpang dalam satu kali perjalanan. Layanan kereta cepat Jakarta–Bandung ini dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Jalur kereta cepat Jakarta–Bandung membentang sepanjang 142,3 kilometer dengan empat stasiun pemberhentian utama. Kehadiran Whoosh menjadi tonggak penting masuknya Indonesia ke dalam era transportasi rel berkecepatan tinggi di Asia Tenggara.
Kereta Bandara dan Kereta Wisata Termasuk Jenis Apa?
Selain pengelompokan berdasarkan teknologi penggeraknya, terdapat pula jenis kereta yang dikategorikan berdasarkan fungsi atau layanan operasionalnya, seperti kereta bandara dan kereta wisata.Kereta bandara berfungsi menghubungkan pusat kota atau stasiun penghubung dengan bandar udara. Namun, kereta bandara bukanlah teknologi penggerak tersendiri, melainkan bentuk layanan yang dapat menggunakan armada Kereta Rel Diesel (KRD) maupun KRL sesuai infrastruktur jalur yang dilalui.
Hal yang sama berlaku untuk kereta wisata. KAI Wisata menyediakan berbagai varian layanan premium seperti Kereta Wisata, Kereta Panoramic, dan Kereta Istimewa. Kategori ini merujuk pada interior, fasilitas, dan pengalaman perjalanan khusus yang ditawarkan kepada penumpang, bukan pada jenis sistem penggerak keretanya.
Dengan demikian, jika ditinjau dari teknologi dan sistem operasinya, jenis kereta utama di Indonesia mencakup kereta lokomotif diesel, KRL, KRDE/I, MRT, LRT, serta kereta cepat. Perkembangan berbagai moda ini mencerminkan lompatan teknologi perkeretaapian Indonesia sejak tahun 1945 hingga era otomasi penuh dan kereta berkecepatan tinggi saat ini.