Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres. Foto: Anadolu
PBB: Gaza Masih Hadapi Penderitaan Besar Meski Gencatan Senjata Berlaku
Muhammad Reyhansyah • 11 June 2026 18:05
New York: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa Gaza masih menghadapi ketidakpastian yang mendalam dan penderitaan kemanusiaan yang sangat besar meskipun gencatan senjata diumumkan delapan bulan lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah berlanjutnya serangan mematikan Israel di Jalur Gaza meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat (AS) mulai berlaku pada Oktober tahun lalu.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, sedikitnya 981 warga Palestina tewas dan 3.104 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan.
Secara keseluruhan, otoritas kesehatan Palestina mencatat sedikitnya 72.991 warga Palestina telah terbunuh sejak perang di Gaza dimulai pada 2023.
Sementara itu, UNICEF mendesak Israel mengambil langkah tegas untuk melindungi anak-anak Palestina setelah serangkaian serangan terbaru menewaskan dan melukai sejumlah anak di Tepi Barat dan Gaza.
Melansir TRT World, Kamis, 11 Juni 2026, Direktur UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, menyoroti insiden penembakan di dekat Hebron yang menewaskan seorang bayi berusia tujuh bulan di Tepi Barat yang diduduki Israel.
Ia juga menyinggung kematian delapan anak dalam serangan Israel di Gaza pada akhir pekan lalu.
"Kita tidak boleh membiarkan ini menjadi hal yang normal. Anak-anak yang kehilangan nyawa akibat kekerasan seharusnya memicu kemarahan dunia dan harus dikecam di semua tingkatan," kata Beigbeder.
Menurutnya, pembunuhan dan luka-luka yang dialami anak-anak serta keluarga mereka, pengungsian paksa, dan serangan terhadap sekolah, rumah, fasilitas air, dan infrastruktur kesehatan menunjukkan pengabaian serius terhadap hak-hak anak.
Beigbeder mendesak otoritas Israel memastikan adanya penyelidikan yang transparan, kredibel, dan menyeluruh setiap kali anak-anak terbunuh atau mengalami luka serius.
Sejumlah kelompok hak asasi manusia sebelumnya juga mendokumentasikan apa yang mereka sebut sebagai kegagalan sistematis Israel dalam menyelidiki keterlibatan tentara maupun pemukim Israel dalam serangan terhadap warga Palestina, termasuk anak-anak.